Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 13 April 2026 | Pada akhir Februari 2026, serangkaian serangan gabungan yang dipimpin Amerika Serikat dan Israel menargetkan wilayah Iran, memicu respons media yang belum pernah terjadi sebelumnya. Di tengah ketegangan yang kian memuncak, sebuah fenomena visual muncul di platform sosial: video berformat Lego yang dihasilkan oleh kecerdasan buatan. Klip-klip tersebut menampilkan tokoh internasional dalam skenario dramatis sekaligus satir, mengubah cara propaganda tradisional menjadi konten yang mudah diserap oleh generasi muda.
Video pertama menampilkan sosok mantan presiden Amerika yang terperosok ke dalam tumpukan dokumen yang dikenal sebagai berkas Epstein, sementara adegan lain memperlihatkan figur ikonik hak sipil terjepit di bawah sepatu bot seorang polisi. Narasi yang menyertai visual tersebut menyatakan bahwa Iran berdiri untuk semua yang pernah dirugikan oleh sistem global. Gaya visual menyerupai potongan film Lego, dipercepat sehingga menciptakan efek dramatis yang berhasil menarik jutaan penonton dalam hitungan hari.
Laporan media lokal mengidentifikasi bahwa klip-klip propaganda tersebut diproduksi oleh sebuah perusahaan bernama Explosive Media. Meski mengklaim independen, perwakilan perusahaan, yang dikenal sebagai Mr Explosive, mengakui bahwa klien utama mereka adalah pemerintah Iran. Tim produksi yang berjumlah kurang dari sepuluh orang memilih estetika Lego karena dianggap sebagai “bahasa dunia” yang melampaui batas bahasa dan budaya, memudahkan pesan tersebar luas tanpa hambatan.
Penyebaran video dilakukan secara terkoordinasi melalui akun resmi militer Iran dan Rusia di jaringan X, platform yang sebelumnya dikenal sebagai Twitter. Setiap postingan dilengkapi dengan tag berwarna merah dan hijau, melambangkan bendera Iran, serta simbol helm berbulu hijau yang merujuk pada Husein ibn Ali, tokoh penting dalam tradisi Syiah. Dalam beberapa minggu, video‑video tersebut dilaporkan ditonton ratusan juta kali, menjadikannya salah satu alat propaganda digital paling efektif dalam konflik modern.
Transformasi pesan propaganda dari narasi martyrdom dan heroisme menjadi meme visual menandai pergeseran signifikan. Kecepatan produksi berkat AI, kemampuan distribusi cepat melalui jaringan sosial, serta daya tarik visual yang ringan namun provokatif memungkinkan pesan politik menembus demografis muda yang biasanya menghindari media konvensional. Iran juga meluncurkan klip yang menampilkan penangkapan pilot jet tempur Amerika, meskipun fakta di lapangan menunjukkan pilot tersebut berhasil diselamatkan oleh pasukan khusus pada awal April 2026. Ketidaksesuaian ini menambah kebingungan dan memperkuat narasi Iran sebagai perlawanan terhadap penindas global.
Para pakar media digital menilai bahwa penggunaan estetika Lego bukan sekadar strategi estetika, melainkan taktik psikologis. Gambar yang tampak bersahabat menurunkan kewaspadaan penonton, sementara pesan anti‑AS dan anti‑Israel disisipkan di balik lapisan humor dan nostalgia anak‑anak. Ini memperluas jangkauan propaganda ke kalangan netizen yang biasanya menghindari konten politik berat. Berikut adalah beberapa poin kunci yang diidentifikasi oleh para analis:
- Penggunaan AI untuk menghasilkan konten visual dalam hitungan menit.
- Distribusi melalui jaringan sosial X dengan dukungan akun negara.
- Penggabungan elemen budaya populer seperti Lego dan meme dengan narasi politik.
- Strategi mengaburkan fakta melalui visual yang mudah dicerna.
Evolusi propaganda Iran dari narasi martyr tradisional menuju meme digital menandai era baru dalam perang informasi. Kecepatan produksi, jangkauan global, dan daya tarik visual yang memikat menjadikan video‑video AI berformat Lego sebagai senjata lunak yang efektif dalam mempengaruhi opini publik internasional. Di tengah konflik yang semakin dipengaruhi teknologi, kemampuan mengendalikan narasi visual menjadi faktor krusial bagi negara‑negara yang terlibat.
Ke depan, pengawasan terhadap konten AI dan verifikasi fakta akan menjadi tantangan utama bagi platform digital dan lembaga berita. Tanpa mekanisme yang kuat, propaganda berbasis meme berpotensi mengaburkan realitas konflik, memicu polarisasi, dan memperpanjang siklus kebencian antarnegara. Upaya kolaboratif antara regulator, penyedia platform, dan organisasi pemeriksa fakta diperlukan untuk menjaga integritas informasi di era digital yang semakin kompleks.
