Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 12 April 2026 | San Siro menjadi saksi pahit pada Sabtu (11/4/2026) ketika AC Milan dijatuhkan oleh Udinese dengan skor akhir 0-3. Kekalahan ini tidak hanya menambah catatan negatif bagi Rossoneri, tetapi juga memperparah keraguan mengenai peluang mereka merebut Scudetto musim ini.
Gol pembuka terjadi tak terduga melalui gol bunuh diri Davide Bartesaghi pada menit ke-27. Bola meluncur ke belakang gawang setelah tekanan Udinese, menjebak kiper Milan dalam kebingungan. Momen tersebut memberi Udinese keunggulan awal dan memaksa Milan untuk mengejar ketertinggalan.
Tak lama setelah itu, Nicolo Zaniolo, mantan bintang Inter yang kini bermain untuk Udinese, menjadi ancaman utama. Pada menit ke-27 (sekitar 10 menit setelah gol pertama), Zaniolo mengirimkan umpan silang dari sisi kanan yang ditangkap oleh Arthur Atta. Atta menyalurkan bola ke dalam kotak penalti, di mana Jurgen Ekkelenkamp melompat dan menyundul bola menjadi gol kedua Udinese.
Gol ketiga tercipta pada menit ke-71. Arthur Atta kembali menjadi penentu, kali ini menerima umpan balik dari rekan setimnya dan mengeksekusi tembakan yang tak terhalang oleh pertahanan Milan. Skor 0-3 menjadi final, menegaskan dominasi Udinese sepanjang pertandingan.
Pelatih AC Milan, Massimiliano Allegri, memberikan penjelasan pasca laga di platform DAZN. Ia menegaskan bahwa perubahan formasi yang diterapkan – beralih dari 3-5-2 ke 4-3-3 dengan menambah satu penyerang dan mengorbankan bek tengah – bukanlah penyebab utama kekalahan. Menurut Allegri, masalah utama terletak pada kurangnya organisasi defensif dan ketidakseimbangan saat menyerang. “Kami bertahan dengan tidak terorganisir karena terlalu terburu‑buru. Pada gol kedua, kami berada dalam situasi tiga lawan satu,” ujar Allegri.
Selain isu taktik, Allegri menyoroti kegagalan lini serang Milan dalam mencetak gol selama empat pertandingan terakhir. “Jika Anda berada di empat besar, tidak mencetak gol dalam empat laga bukanlah hal bagus. Hari ini kami punya peluang, tetapi tidak mencetak gol,” katanya. Kritik terhadap lini depan juga muncul setelah Christian Pulisic dan Rafael Leão gagal memanfaatkan ruang yang diberikan oleh perubahan formasi.
Kekalahan ini menempatkan AC Milan pada posisi ketiga klasemen sementara dengan 63 poin, terpaut sembilan poin dari pemuncak klasemen Inter Milan. Udinese, dengan kemenangan ini, naik ke peringkat 10 dengan 43 poin, memperkuat posisi mereka di zona Eropa.
Statistik pertandingan menunjukkan dominasi Udinese dalam serangan balik. Milan menguasai bola lebih lama, namun gagal menciptakan peluang bermutu. Sementara itu, pertahanan Udinese tampil disiplin, menutup ruang bagi serangan Milan dan memanfaatkan kesalahan individu pemain Milan, terutama pada gol bunuh diri Bartesaghi.
Para pemain Milan tampak frustrasi. Setelah gol kedua, pemain sayap Alexis Saelemaekers terlihat berusaha mengirimkan umpan silang, namun tembakan Keinan Davis hanya mengenai mistar gawang. Upaya memperkecil ketertinggalan pada babak kedua tidak membuahkan hasil, dan tim harus menelan kegagalan total.
Kondisi ini menambah tekanan pada Allegri menjelang sisa musim. Ia mengingatkan bahwa masih ada peluang untuk mengamankan tempat di zona Liga Champions, namun harus memperbaiki keseimbangan antara pertahanan dan serangan. “Kami harus kembali berpikiran jernih dan mengatur permainan dengan lebih terstruktur,” tegasnya.
Secara keseluruhan, pertandingan ini menegaskan bahwa AC Milan berada pada titik krusial. Perubahan taktik, kegagalan mencetak gol, dan kekacauan defensif menjadi faktor utama yang harus diatasi jika Rossoneri ingin tetap bersaing di puncak Serie A.
Kesimpulannya, kekalahan 0-3 melukai moral tim sekaligus menurunkan peluang mereka merebut gelar. Dengan tiga poin yang tertinggal dari Inter, Milan harus segera menemukan solusi taktik dan meningkatkan konsistensi performa untuk mengembalikan harapan para pendukung.
