Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 12 April 2026 | Proyek Jalan Tol Gedebage‑Tasikmalaya‑Cilacap (Getaci) yang semula dijanjikan akan mengusung gelar tol terpanjang di Indonesia kini terpuruk dalam kebuntuan lelang. Meskipun memiliki panjang total 206,65 km dan dirancang melintasi dua provinsi, Getaci belum berhasil menarik minat investor setelah serangkaian kegagalan lelang hingga April 2026.
Rute tol ini menghubungkan simpul ekonomi utama dari Bandung hingga Cilacap, menembus tujuh kabupaten/kota: Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Garut, Kabupaten Tasikmalaya, Kota Tasikmalaya, Ciamis, dan Cilacap. Sebagian besar lintasannya berada di Jawa Barat (171,27 km) dengan sisanya 35,38 km berada di Jawa Tengah.
- Panjang total: 206,65 km
- Investasi yang dibutuhkan: Rp 56,2 triliun
- Jangka waktu konsesi: 40 tahun
- Provinsi: Jawa Barat, Jawa Tengah
- Kabupaten/kota: Bandung, Garut, Tasikmalaya, Ciamis, Cilacap
Menurut Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo, penyebab utama rendahnya minat investor adalah proyeksi lalu lintas harian yang dianggap kurang menguntungkan. “Biasanya kalau satu proyek yang kita tawarkan tidak banyak minatnya, ya biasanya karena trafiknya kurang,” ujarnya pada Jumat, 10 April 2026. Tanpa perkiraan arus kendaraan yang memadai, calon investor menilai risiko tidak dapat ditutupi oleh tarif tol, sehingga menolak untuk menandatangani financial close.
Lelang pertama pada 2022 berhasil dimenangkan oleh konsorsium PT Jasamarga Gedebage Cilacap (JGC), yang terdiri atas PT Jasa Marga (Persero) Tbk, PT Daya Mulia Turangga, PT Gama Group, dan PT Jasa Sarana. Namun, kegagalan anggota konsorsium dalam memperoleh pembiayaan menyebabkan kontrak hangus dan proyek kembali ke meja lelang. Lelang ulang terbaru menolak dua konsorsium besar, PT Trans Persada Sejahtera‑PT Wiranusantara Bumi serta PT Helindo‑PT Proyek Tiga, yang tidak lolos kualifikasi.
Kegagalan berulang ini menegaskan bahwa sekadar memiliki predikat “tol terpanjang” tidak menjamin kelayakan ekonomi. Sementara Tol Terbanggi Besar‑Pematang Panggang‑Kayu Agung (Terpeka), bagian dari jaringan Jalan Tol Trans Sumatera, masih memegang rekor dengan panjang 189 km dan telah beroperasi penuh, Getaci tetap berada dalam status proyek strategis nasional (PSN) yang belum terpakai.
Pemerintah kini dihadapkan pada pilihan strategis: menyuntikkan dana tambahan (chip‑in) untuk meningkatkan daya tarik Getaci atau mengalihkan sumber daya ke infrastruktur yang dianggap lebih mendesak, seperti pembangunan Bendungan Cibeet dan Cijurey untuk mengatasi risiko banjir di wilayah Karawang, Bogor, dan Bekasi. Keterbatasan anggaran menjadi faktor pembatas utama, sehingga dukungan fiskal untuk Getaci belum dapat direalisasikan.
Rencana pembangunan Getaci dibagi menjadi dua fase. Tahap pertama, Gedebage‑Tasikmalaya sepanjang 95,52 km, dijadwalkan mulai dibangun pada 2026 dan diharapkan beroperasi pada 2029. Tahap kedua, Tasikmalaya‑Cilacap sepanjang 111,13 km, akan dilanjutkan setelah penyelesaian fase pertama, dengan target akhir operasi belum pasti mengingat kondisi pasar saat ini.
Secara keseluruhan, kegagalan Getaci menyoroti pentingnya keseimbangan antara ambisi teknis dan kelayakan finansial. Pemerintah perlu meninjau kembali model pembiayaan, memperbaiki estimasi trafik, atau mempertimbangkan skema kemitraan publik‑swasta yang lebih fleksibel. Tanpa langkah konkret, gelar tol terpanjang kemungkinan akan tetap berada di tangan Tol Terpeka, sementara Getaci tetap menjadi proyek megah yang belum menemukan jalur untuk terwujud.
