Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 26 Mei 2026 | Starbucks Korea tengah terjerat dalam kontroversi ‘Tank Day’ yang memicu kemarahan masyarakat. Perusahaan tersebut mengeluarkan promosi yang dinilai tidak sensitif dan menghina korban pembantaian Gwangju pada tahun 1980. Ketua Shinsegae Group, Chung Yong-jin, meminta maaf secara terbuka dan mengakui bahwa promosi tersebut telah menyebabkan luka dan kemarahan bagi banyak orang.
Presiden Korea Selatan, Lee Jae-myung, menyebut promosi tersebut sebagai ‘perilaku tidak manusiawi dan ceroboh’ yang dilakukan oleh ‘pedagang kelas rendah’ untuk mendapatkan keuntungan cepat. Partai Demokratik yang berkuasa juga meminta boikot terhadap Starbucks Korea.
Menurut laporan, penjualan Starbucks Korea mengalami penurunan yang signifikan akibat boikot ini. Polisi telah meluncurkan penyelidikan setelah kelompok masyarakat mengajukan pengaduan.
Starbucks Korea mengakui bahwa promosi ‘Tank Day’ tersebut tidak memiliki ‘niat jahat’, namun perusahaan tersebut tetap meminta maaf dan berjanji untuk memperbaiki kesalahan.
Sementara itu, kontroversi ini juga memicu perdebatan tentang bagaimana negara harus menangani ekspresi kebencian dan ujaran yang tidak pantas. Presiden Lee Jae-myung menyerukan agar negara lebih tegas dalam menangani masalah ini.
Kontroversi Starbucks Korea ini telah menjadi sorotan nasional dan mempengaruhi opini publik menjelang pemilihan umum lokal. Partai Demokratik yang berkuasa mendapatkan dukungan yang meningkat, sementara Partai Kekuatan Rakyat yang oposisi mengalami penurunan dukungan.
