Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 11 April 2026 | Pada perdagangan Jumat (10/4/2026), harga minyak dunia kembali mengalami penurunan signifikan, menembus level USD 100 per barel untuk pertama kalinya dalam minggu ini. West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Mei turun 1,5% menjadi USD 96,37 per barel, sementara Brent untuk Juni melemah 1,3% ke USD 94,69 per barel. Penurunan ini terjadi di tengah ketegangan yang masih melanda Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang mengalirkan sekitar 20% pasokan minyak dunia.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dalam unggahan di platform media sosialnya, menegaskan bahwa Iran harus menghentikan apa yang ia sebut “pemerasan jangka pendek” terhadap kapal tanker. Trump menilai Iran tidak memiliki kartu kuat selain mengancam jalur pelayaran internasional, dan mengingatkan bahwa kesepakatan gencatan senjata dua pekan yang baru-baru ini disepakati dapat terganggu bila Iran tidak mematuhi kewajibannya menjaga kelancaran distribusi minyak.
Sementara itu, kawasan Teluk Persia juga diguncang oleh serangan terhadap fasilitas energi Arab Saudi. Pada 10 April 2026, sejumlah instalasi penting di Riyadh, Provinsi Timur, dan Yanbu mengalami gangguan akibat serangan drone. Menurut laporan, satu stasiun pompa pada East-West Pipeline kehilangan sekitar 700.000 barel per hari, sementara produksi di lapangan Manifa dan Khurais masing-masing turun sekitar 300.000 barel per hari. Secara agregat, kapasitas produksi Saudi berkurang sekitar 600.000 barel per hari, menambah tekanan pada pasokan global.
Di tengah dinamika tersebut, Presiden Prabowo Subianto menjadwalkan pertemuan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Moskow. Pertemuan ini diharapkan membahas kerja sama energi, termasuk potensi pembelian minyak mentah Rusia sebagai alternatif pasokan yang selama ini sebagian besar mengalir melalui Selat Hormuz. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menyoroti proyek kilang bersama Rosneft dan Pertamina di Tuban sebagai contoh kerja sama yang sudah berjalan, sekaligus menekankan pentingnya diversifikasi sumber energi Indonesia.
Berikut ringkasan data harga minyak dan gangguan pasokan yang terjadi dalam minggu terakhir:
| Komoditas | Pengiriman | Harga (USD/barel) | Perubahan |
|---|---|---|---|
| WTI | Mei | 96,37 | -1,5% |
| Brent | Juni | 94,69 | -1,3% |
Gangguan di Arab Saudi diperkirakan menurunkan pasokan harian global sekitar 600.000 barel, yang bila dikombinasikan dengan ketidakpastian di Selat Hormuz dapat memicu volatilitas harga minyak dalam jangka pendek. Analisis para pakar energi menunjukkan bahwa jika ketegangan di Selat Hormuz berlanjut, harga dapat kembali naik di atas USD 100 dalam beberapa minggu ke depan, tergantung pada respons diplomatik dan keamanan maritim.
Dalam konteks geopolitik, pernyataan Trump dan aksi militer Iran di Selat Hormuz menciptakan skenario risiko yang tinggi bagi pelayaran komersial. Sementara itu, serangan terhadap fasilitas Saudi menunjukkan bahwa konflik regional tidak hanya terbatas pada perseteruan militer tradisional, melainkan juga melibatkan strategi asimetris seperti penggunaan drone.
Indonesia, sebagai konsumen minyak berskala besar, tengah menimbang opsi diversifikasi pasokan. Rencana pembelian minyak mentah Rusia diharapkan dapat mengurangi ketergantungan pada rute Hormuz hingga 20%, sekaligus memperkuat hubungan energi bilateral dengan Moskow. Namun, keputusan tersebut harus mempertimbangkan sanksi internasional dan dinamika politik yang terus berubah.
Secara keseluruhan, pasar minyak berada pada titik kritis dimana faktor geopolitik, keamanan jalur pelayaran, dan kebijakan energi nasional saling berinteraksi. Pengamat pasar menekankan pentingnya koordinasi antara negara produsen dan konsumen untuk menjaga stabilitas harga, sambil memperkuat mekanisme penyelesaian sengketa di wilayah strategis seperti Selat Hormuz.
Ke depan, keputusan kebijakan di tingkat tertinggi—baik dari Washington, Tehran, maupun Riyadh—akan menjadi penentu utama arah pergerakan harga minyak dunia. Indonesia, dengan strategi diversifikasi dan diplomasi energi, berupaya menavigasi ketidakpastian ini demi keamanan energi nasional.
