AS Tegaskan Penolakan Pengayaan Uranium Iran Meski Gencatan Senjata Dua Minggu

Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 11 April 2026 | Pemerintah Amerika Serikat kembali menegaskan penolakannya terhadap segala bentuk pengayaan uranium di wilayah Iran, meskipun kedua belah pihak baru saja menandatangani gencatan senjata selama dua minggu. Juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, menegaskan bahwa garis merah Presiden tetap pada penghentian total program nuklir Tehran, tanpa ada ruang kompromi.

Gencatan senjata yang dicapai pada 8 April 2026 mengakhiri 38 hari pertempuran sengit antara pasukan ASIsrael dan militer Iran. Kesepakatan itu, yang dimediasi oleh Pakistan, memungkinkan kedua pihak melanjutkan perundingan damai di Islamabad pada akhir pekan ini. Namun, ketegangan masih menyelimuti proses negosiasi karena Iran menuduh adanya pelanggaran dari pihak AS dan Israel, sementara Washington menolak setiap usulan yang mengizinkan Iran melanjutkan pengayaan uranium.

Baca juga:

Presiden Donald Trump, yang masih memegang kendali penuh atas kebijakan luar negeri, menulis di media sosial bahwa serangkaian serangan udara Amerika telah berhasil menghancurkan fasilitas nuklir Iran. “Tidak akan ada pengayaan uranium, dan AS bersama Iran akan menggali dan menyingkirkan semua debu nuklir yang terkubur,” tulis Trump, menambahkan bahwa operasi tersebut berada di bawah pengawasan satelit yang ketat.

Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, juga memperingatkan Tehran untuk segera menyerahkan material nuklirnya secara sukarela. Ia menegaskan bahwa AS siap mengambil langkah sepihak jika Iran menolak memenuhi tuntutan tersebut. Pernyataan ini memperkuat sikap keras Washington yang menolak setiap bentuk kompromi pada isu nuklir.

Iran, di sisi lain, menolak semua pembatasan yang diajukan oleh AS dan Israel. Badan energi nuklir Iran menegaskan bahwa negara tersebut berhak mengembangkan program pengayaan secara damai dan menolak tuduhan bahwa programnya bertujuan membuat senjata nuklir. Kepala Nuklir Iran bahkan menyatakan bahwa tekanan AS dan Israel tidak akan menghentikan pengayaan uranium, menegaskan komitmen Tehran untuk melanjutkan programnya.

Dalam upaya membuka kembali jalur diplomasi, Iran sebelumnya mengajukan sepuluh tuntutan perdamaian yang dianggap tidak masuk akal oleh tim perunding AS. Tuntutan tersebut mencakup jaminan non‑agresi, pengakuan kontrol Iran atas Selat Hormuz, penarikan pasukan AS dari Timur Tengah, pencabutan semua sanksi ekonomi, serta penghentian resolusi PBB dan IAEA yang menjerat Tehran. Tim perunding Trump menolak semua poin tersebut, menyebutnya “sampah”.

Namun, sebelum tenggat waktu berakhir, Tehran menyodorkan rancangan baru yang dianggap lebih realistis. Proposal modifikasi ini membuka ruang bagi perundingan resmi, dengan syarat utama Iran tetap mempertahankan program pengayaan uranium tanpa batasan. Pemerintah AS menilai proposal tersebut dapat menjadi dasar diskusi, meski tetap menolak pengayaan secara keseluruhan.

Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, dalam percakapan telepon dengan Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, menekankan bahwa kelanjutan gencatan senjata sangat bergantung pada kepatuhan Amerika terhadap komitmen yang telah disepakati. Ia menyampaikan rasa terima kasih kepada negara‑negara sahabat yang membantu menghentikan apa yang disebutnya sebagai agresi ilegal Amerika Serikat dan Israel.

Sejumlah analis geopolitik mencatat bahwa gencatan senjata ini merupakan langkah pertama yang krusial, namun bukan jaminan akhir bagi perdamaian. Pengayaan uranium tetap menjadi titik tumpu utama dalam dinamika hubungan Washington‑Tehran. Jika negosiasi di Islamabad gagal menghasilkan kesepakatan yang memuaskan kedua belah pihak, risiko eskalasi kembali ke tingkat militer tetap tinggi.

Selama dua minggu gencatan, Iran membuka kembali jalur pelayaran Selat Hormuz secara aman, sementara AS menegaskan bahwa semua material nuklir yang berada di wilayah Iran berada di bawah pemantauan satelit ketat. Kedua pihak menunggu hasil pertemuan di Islamabad yang dijadwalkan akhir pekan ini, dengan harapan dapat merumuskan kerangka kerja yang lebih stabil untuk hubungan regional.

Secara keseluruhan, posisi AS tetap keras: tidak ada toleransi terhadap pengayaan uranium Iran. Sementara Iran bersikeras mempertahankan haknya untuk mengembangkan program nuklir, kedua negara kini berada di persimpangan penting yang akan menentukan arah keamanan kawasan Timur Tengah dalam jangka panjang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *