Lulusan SNBP 2026 Unand Terancam Trauma: Kisah Siswa Korban Bullying yang Kini Dirawat di RSJ

Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 11 April 2026 | Padang, 10 April 2026 – Seorang siswa SMA Pertiwi 2 Padang yang dikenal dengan inisial B berhasil menembus jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) 2026 untuk masuk ke Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas (Unand). Prestasi akademiknya menjadi sorotan publik sekaligus menimbulkan rasa haru, mengingat hanya dua hari setelah pengumuman kelulusan tersebut, B harus menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Prof. HB. Saanin Padang akibat trauma psikis berat yang diduga diakibatkan oleh perundungan (bullying) yang berlangsung secara berulang di lingkungan sekolah.

Menurut keterangan yang diberikan oleh pihak sekolah, B memiliki catatan akademik yang konsisten sejak awal menempuh pendidikan menengah. Nilai rapor yang selalu berada di atas rata‑rata, serta partisipasinya dalam lomba‑lomba sastra, menjadikan namanya masuk dalam daftar calon terbaik untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi negeri melalui jalur tanpa tes. Pada Jumat, 10 April 2026, Redaksi Padang melaporkan bahwa SMA Pertiwi 2 Padang secara resmi mengumumkan kelulusan B melalui unggahan di akun media sosial resmi mereka, lengkap dengan foto dan ucapan selamat yang menonjolkan prestasi tersebut.

Baca juga:

Namun di balik kebahagiaan itu, keluarga B tengah berjuang melawan dampak psikologis yang serius. Muswan Tiara, ayah B yang berusia 37 tahun, menyatakan rasa bangga sekaligus keprihatinan mendalam. “Saya sangat bangga atas capaian putra saya. Dia anak yang pintar dan rajin. Namun, hati saya hancur melihat kondisinya sekarang yang harus menjalani perawatan di RSJ,” ujarnya dengan nada bergetar saat diwawancarai oleh tim media. Menurut Muswan, perubahan perilaku B mulai tampak sejak awal tahun ajaran berjalan, ketika ia menjadi sasaran komentar‑komentar menghina, penyebaran fitnah, serta tindakan fisik ringan yang dilakukan oleh sejumlah teman sekelas.

Para psikolog yang menangani kasus ini menegaskan bahwa bullying dapat menimbulkan efek domino pada kesehatan mental remaja. Gejala‑gejala seperti kecemasan berlebih, depresi, serta gangguan tidur dapat berujung pada kerusakan saraf bila tidak ditangani secara profesional. “Kasus B menggambarkan bagaimana tekanan sosial yang terus‑menerus dapat mengganggu fungsi limbik otak, sehingga menimbulkan gangguan mood yang parah,” jelas Dr. Siti Nurbaya, psikiater di RSJ Prof. HB. Saanin. “Karena itu, rujukan ke rumah sakit jiwa merupakan langkah yang tepat untuk memberikan terapi intensif dan evaluasi medis yang komprehensif.”

Pengumuman kelulusan B lewat SNBP 2026 juga menimbulkan reaksi beragam di media sosial. Banyak netizen yang mengecam keras aksi bullying di lingkungan sekolah, sekaligus memberikan dukungan moral kepada B dan keluarganya. Tagar #StopBullyingPadang dan #DukungB menjadi trending selama beberapa jam setelah berita tersebut menyebar. Beberapa tokoh pendidikan daerah, termasuk Kepala Dinas Pendidikan Sumatera Barat, menyatakan akan melakukan audit internal terhadap prosedur penanganan kasus bullying di semua SMA negeri dan swasta di provinsi tersebut.

Pihak SMA Pertiwi 2 Padang berjanji akan memperkuat kebijakan anti‑bullying, termasuk pelatihan bagi guru, pendirian tim mediasi, serta kerja sama dengan lembaga konseling eksternal. Sekolah juga berencana mengadakan program pencegahan yang melibatkan orang tua siswa secara aktif, guna menciptakan lingkungan belajar yang lebih aman dan mendukung kesehatan mental.

Di sisi lain, Universitas Andalas memberikan pernyataan resmi yang menyatakan kebanggaan atas pencapaian B dan sekaligus menegaskan komitmen institusi untuk memberikan dukungan akademik serta layanan kesehatan bagi mahasiswa yang membutuhkan. “Kami berharap B dapat segera pulih dan melanjutkan studinya di Unand. Kami siap memberikan fasilitas belajar yang fleksibel serta akses ke layanan konseling kampus,” kata Rektor Unand, Prof. Dr. Ahmad Rizal.

Kasus ini menjadi pengingat penting bagi seluruh pemangku kepentingan pendidikan di Indonesia bahwa prestasi akademik tidak boleh dipisahkan dari kesejahteraan emosional siswa. Penanganan bullying yang tepat, intervensi dini, serta dukungan mental yang berkelanjutan menjadi faktor krusial dalam menciptakan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga sehat secara psikologis. Dengan sinergi antara sekolah, keluarga, institusi kesehatan, dan pemerintah, diharapkan tragedi serupa dapat dicegah di masa depan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *