Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 07 Mei 2026 | Setelah mengakhiri pertemuan penting dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Moskow, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi melanjutkan agenda luar negerinya dengan mengunjungi Beijing pada Rabu, 6 Mei 2026. Kunjungan ini menjadi yang pertama sejak pecahnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran pada akhir Februari, dan terjadi hanya beberapa hari sebelum Presiden AS Donald Trump dijadwalkan tiba di China untuk pertemuan puncak dengan Presiden Xi Jinping pada 14–15 Mei.
Di Beijing, Araghchi bertatap muka dengan Menteri Luar Negeri China Wang Yi dalam sebuah pertemuan bilateral yang berlangsung di Istana Kerja Kementerian Luar Negeri China. Kedua pejabat membahas sejumlah isu strategis, termasuk gencatan senjata yang baru saja tercapai pada April, penutupan Selat Hormuz oleh Tehran, serta hubungan energi dan perdagangan bilateral yang semakin penting di tengah sanksi internasional yang menekan ekonomi Iran.
Menurut laporan resmi kedutaan, Wang Yi menegaskan bahwa China mendukung kedaulatan Iran serta haknya untuk mencari solusi politik melalui diplomasi. Pada kesempatan yang sama, Wang menyuarakan keprihatinannya atas blokade laut yang dilakukan oleh Amerika Serikat terhadap pelabuhan Iran, menyebut tindakan tersebut berbahaya bagi stabilitas kawasan. Namun, Beijing juga mengingatkan Tehran bahwa penutupan Selat Hormuz—jalur yang mengalirkan sekitar 20 persen pasokan minyak dunia—menimbulkan dampak negatif bagi perdagangan global dan dapat memperparah isolasi internasional Iran.
Para analis menilai bahwa agenda utama pertemuan mencakup tiga pilar utama: pertama, dorongan China untuk segera membuka kembali Selat Hormuz; kedua, dukungan terhadap proses gencatan senjata yang melibatkan pihak-pihak di Timur Tengah; ketiga, pembahasan mengenai hak Iran mengembangkan energi nuklir secara damai, sebuah topik yang selalu menjadi sorotan Amerika Serikat. Wang Yi menegaskan bahwa Beijing mengakui hak sah Iran untuk menggunakan energi nuklir secara damai, sekaligus menolak setiap upaya pengembangan senjata nuklir oleh Tehran.
Sementara itu, di Washington, Senator Marco Rubio menuntut China untuk menggunakan pengaruhnya agar Iran menghentikan penutupan Selat Hormuz. Rubio menilai bahwa tindakan Tehran meningkatkan risiko resesi global karena harga minyak dan pupuk melambung tajam. Permintaan tersebut muncul bersamaan dengan persiapan Trump untuk kunjungan kenegaraan ke China, di mana diharapkan akan dibahas pula kebijakan Amerika terhadap Iran serta upaya menurunkan ketegangan di Teluk.
Keberadaan Araghchi di Beijing pada saat yang sangat sensitif menandakan peran strategis China sebagai penyeimbang antara kepentingan Barat dan Timur. Beijing, sebagai pembeli utama minyak Iran, memiliki kepentingan ekonomi yang besar untuk memastikan aliran energi tetap stabil. Selain itu, China juga berusaha mengukuhkan posisinya sebagai mediator internasional yang dapat menengahi konflik antara Amerika Serikat dan Iran, terutama setelah pertemuan puncak Trump‑Xi yang diharapkan menjadi platform dialog multilateral.
Beberapa pakar keamanan regional, termasuk Jodie Wen dari Center for International Security and Strategy Tsinghua University, berpendapat bahwa China kemungkinan akan menekan Iran secara diplomatik untuk membuka kembali Selat Hormuz, sambil menjaga hubungan baik dengan Tehran agar pasokan energi tidak terganggu. Analisis serupa datang dari Chris Doyle, Council for Arab‑British Understanding, yang menyoroti bahwa China bersama Rusia telah beberapa kali memblokir resolusi PBB yang mengkritik Iran, menunjukkan adanya dukungan politik yang konsisten.
Dengan demikian, Kunjungan Menlu Iran ke China bukan sekadar pertemuan formal, melainkan langkah penting dalam rangka mengatur kembali dinamika geopolitik di Timur Tengah menjelang pertemuan puncak Trump‑Xi. Kedua negara tampaknya berusaha menyeimbangkan antara kepentingan energi, keamanan regional, dan tekanan internasional, sambil menjaga ruang gerak diplomatik masing‑masing. Masa depan Selat Hormuz dan stabilitas pasar energi dunia kini sangat dipengaruhi oleh hasil negosiasi yang berlangsung di Beijing.
