Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 10 April 2026 | Seorang ibu muda bernama Nina Saleha, warga Margaasih, Kabupaten Bandung, baru-baru ini menjadi sorotan publik setelah mengungkapkan pengalaman mengerikan di Rumah Sakit Universitas Padjadjaran (RSHS) Bandung. Pada 8 April 2026, video yang diunggah ke TikTok oleh akun @nindy5760 memperlihatkan Nina mengeluhkan bahwa bayinya hampir tertukar dengan bayi lain pada saat proses kepulangan dari ruang perawatan intensif neonatus (NICU). Video tersebut cepat menjadi viral dan memicu perdebatan luas tentang keamanan prosedur penyerahan bayi di rumah sakit.
Menurut keterangan Nina, bayi yang baru lahirnya dirawat selama empat hari di NICU. Sebelum perawatan selesai, pihak rumah sakit meminta Nina membawa baju dan selimut bayi. Namun, saat ia menerima kembali bayinya, ia menemukan dua benda tersebut berada di tangan orang yang tidak dikenalnya. Nina langsung menyadari adanya kesalahan penyerahan karena pakaian dan selimut tidak sesuai dengan yang ia bawa.
Insiden tersebut menimbulkan kepanikan di kalangan orang tua yang mengandalkan protokol penyerahan bayi yang ketat. Nina mengaku, “Kalau saya telat sedikit, anakku bisa hilang.” Pernyataan ini menggugah simpati publik dan menambah tekanan pada pihak rumah sakit untuk memberikan penjelasan serta tindakan korektif.
Pihak RSHS Bandung merespon dengan mengeluarkan pernyataan resmi melalui Asisten Manajer Keperawatan, Arif. Ia mengonfirmasi bahwa perawat yang terlibat telah dinonaktifkan sementara dari pelayanan, dan dipindahkan ke bagian yang tidak berhubungan langsung dengan pasien. Selanjutnya, rumah sakit menyatakan akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap prosedur penyerahan bayi, termasuk audit kepatuhan SOP dan potensi unsur kelalaian atau kriminal.
Berikut rangkaian langkah yang dijanjikan oleh RSHS Bandung:
- Penonaktifan sementara perawat yang terlibat dan penempatan kembali ke posisi non‑klinis.
- Penyelidikan internal untuk mengidentifikasi apakah terdapat pelanggaran prosedur atau faktor manusia lainnya.
- Kerjasama dengan Kementerian Kesehatan untuk audit eksternal.
- Pembinaan ulang dan pelatihan SOP penyerahan bayi bagi seluruh staf keperawatan.
Selain respons rumah sakit, Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, juga turun tangan secara langsung. Pada 9 April 2026, melalui panggilan video, ia menyampaikan keprihatinannya dan menawarkan bantuan sebesar Rp10.000.000 kepada Nina. Bantuan tersebut ditujukan untuk kebutuhan bayi dan pemulihan kesehatan pasca‑persalinan, termasuk pembelian popok, nutrisi, serta biaya medis lainnya. Dedi menambahkan ucapan selamat atas kelahiran anak ketiga Nina dan memuji ketangguhan ibu dalam menghadapi situasi tersebut.
Kasus ini juga menimbulkan spekulasi tentang kemungkinan unsur kriminal. Pihak rumah sakit belum mengonfirmasi adanya unsur pidana, namun menyatakan bahwa hasil investigasi akan menentukan apakah sanksi administratif atau hukuman pidana diperlukan. Jika ditemukan kelalaian serius, sanksi dapat berupa pencabutan kewenangan klinis sementara atau bahkan pemecatan permanen.
Reaksi masyarakat di media sosial beragam. Sebagian besar netizen mengkritik prosedur keamanan rumah sakit, menuntut transparansi, dan meminta pertanggungjawaban yang tegas. Di sisi lain, ada pula dukungan kepada Nina atas keberaniannya mengungkapkan masalah ini, serta apresiasi terhadap bantuan gubernur yang dianggap cepat dan tepat.
Para pakar kesehatan anak menekankan pentingnya prosedur identifikasi ganda (double‑check) ketika menyerahkan bayi kepada orang tua. Mereka menyarankan penggunaan barcode atau RFID tag pada gelang bayi sebagai langkah preventif tambahan. “Kasus ini menjadi pelajaran penting bagi seluruh fasilitas kesehatan, terutama yang menangani neonatus, untuk memperkuat kontrol kualitas dan menghindari potensi tragedi serupa,” ujar Dr. Andi Prasetyo, pakar kebijakan kesehatan.
Secara keseluruhan, insiden bayi nyaris tertukar di RSHS Bandung menggarisbawahi perlunya evaluasi prosedural yang mendalam, peningkatan pelatihan staf, serta pemantauan berkelanjutan oleh otoritas kesehatan. Bantuan finansial dari Gubernur Dedi Mulyadi memberikan dukungan langsung kepada keluarga korban, namun hal tersebut tidak mengurangi tuntutan akan reformasi sistemik yang lebih luas.
Ke depan, rumah sakit berjanji akan mengumumkan hasil evaluasi secara terbuka, dan menyiapkan mekanisme pelaporan yang lebih mudah bagi pasien. Sementara itu, Nina Saleha berharap kejadian serupa tidak akan terulang dan mengajak seluruh orang tua untuk lebih waspada dalam proses penyerahan bayi.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa keamanan pasien, khususnya bayi baru lahir, harus menjadi prioritas utama dalam layanan kesehatan. Dengan langkah-langkah perbaikan yang tepat, kepercayaan publik dapat dipulihkan, dan tragedi serupa dapat dicegah.
