Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 06 Mei 2026 | Pelatih Irak, Graham Arnold, mengeluarkan kritik tajam terhadap proses ronde keempat Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia yang ia nilai tidak adil bagi Timnas Indonesia. Dalam wawancara eksklusif di kanal YouTube The Howie Games pada 5 Mei 2026, Arnold menegaskan bahwa AFC semula berjanji menggelar pertandingan play‑off di venue netral. Namun, setelah undian dilakukan, aturan tersebut berubah secara mendadak dan dua tim dengan peringkat tertinggi, termasuk Arab Saudi, ditetapkan sebagai tuan rumah.
Arnold menyoroti fakta bahwa peringkat FIFA pada Juni 2025 menempatkan Irak pada posisi 57, Arab Saudi pada posisi 58, dan Qatar pada posisi 53. Berdasarkan peringkat tersebut, seharusnya Qatar dan Irak menjadi tuan rumah ronde keempat. Namun, keputusan AFC justru memberikan hak tuan rumah kepada Arab Saudi, sebuah langkah yang menurut Arnold menyalahi prinsip keadilan kompetisi.
Selain penunjukan lokasi, jadwal pertandingan juga menjadi sorotan utama. Indonesia harus menempuh perjalanan jauh ke Arab Saudi dan langsung dijadwalkan bertanding pada 9 Oktober 2025 melawan tim tuan rumah. Tim Merah Putih baru tiba pada awal pekan dan hanya diberikan jeda dua hingga tiga hari sebelum menghadapi Irak pada 12 Oktober. Sementara itu, Arab Saudi menikmati jeda pemulihan enam hingga tujuh hari antara pertandingan pertama dan kedua mereka. Kondisi ini, kata Arnold, menciptakan ketidakseimbangan fisik dan taktik yang merugikan skuad Garuda.
Hasil akhir grup pun mencerminkan ketimpangan tersebut. Arab Saudi berhasil mengamankan kemenangan melawan Indonesia dengan skor 2‑3, sementara Irak menahan Indonesia 0‑1. Arab Saudi melaju sebagai juara Grup B dan langsung lolos ke putaran final Piala Dunia 2026, sedangkan Irak menempati posisi runner‑up. Timnas Indonesia, yang berada di posisi terbawah, terpaksa tersingkir dari kontestasi.
Arnold tidak hanya mengkritik keputusan AFC, ia juga menekankan pentingnya transparansi dalam proses undian dan penetapan tuan rumah. Menurutnya, perubahan mendadak tanpa pemberitahuan resmi menimbulkan keraguan terhadap integritas kompetisi. “Jujur, saya merasa play‑off itu tidak adil, terutama dengan apa yang terjadi dengan Timnas Indonesia,” ujar Arnold dalam cuplikan wawancara.
Para pengamat sepak bola menilai bahwa keluhan Arnold mencerminkan masalah struktural dalam manajemen turnamen zona Asia. Penetapan tuan rumah yang tidak konsisten dengan peringkat FIFA dapat memberikan keuntungan signifikan bagi tim yang bermain di kandang, baik dari segi dukungan suporter maupun aklimatisasi. Selain itu, jadwal yang padat dan waktu pemulihan yang tidak merata dapat mempengaruhi performa tim, khususnya bagi negara yang harus menempuh perjalanan jauh.
Federasi Sepak Bola Indonesia (PSSI) belum memberikan respons resmi terhadap pernyataan Arnold. Namun, sejumlah pemain dan staf pelatih Indonesia menyatakan kekecewaan atas penataan jadwal yang dianggap tidak berpihak. Mereka berharap AFC dapat meninjau kembali kebijakan penunjukan tuan rumah dan memperbaiki format jadwal untuk edisi berikutnya.
Dalam konteks yang lebih luas, kontroversi ini menambah daftar permasalahan yang sering dihadapi AFC, mulai dari penentuan slot kualifikasi hingga alokasi hak siar. Jika tidak ditangani dengan baik, hal ini berpotensi menurunkan kredibilitas kompetisi dan memicu ketegangan antar federasi anggota.
Arnold menutup pernyataannya dengan harapan AFC akan mengambil langkah korektif. “Kami berharap keputusan selanjutnya lebih mengedepankan keadilan dan sportivitas, sehingga semua tim memiliki kesempatan yang sama untuk bersaing,” katanya. Kritiknya membuka ruang diskusi yang lebih luas mengenai reformasi sistem kualifikasi Piala Dunia di zona Asia, terutama dalam upaya memastikan bahwa tidak ada tim yang menjadi korban kebijakan yang tidak konsisten.
