Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 11 Juli 2026 | Nilai tukar rupiah mengalami penguatan menjadi Rp18.065 per dolar AS pada perdagangan Jumat (10/7) sore. Penguatan ini merupakan hasil dari kombinasi faktor eksternal dan internal. Dari sisi eksternal, perang antara Amerika Serikat dan Iran serta kenaikan harga minyak dunia menjadi penyebab utama penguatan rupiah.
Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa lonjakan harga minyak memicu kekhawatiran tentang inflasi yang didorong oleh energi. Hal ini dapat memicu sikap yang lebih agresif dari Bank Sentral AS, The Federal Reserve. Selain itu, pernyataan International Monetary Fund yang mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia di level 5 persen pada 2026 juga disambut positif oleh pasar.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menegaskan bahwa fundamental ekonomi dalam negeri tetap kuat. Pertumbuhan ekonomi dan neraca perdagangan yang positif menjadi indikator yang memengaruhi rupiah. Airlangga juga menambahkan bahwa defisit neraca dagang bulan Juni dipengaruhi oleh melonjaknya impor BBM di pasar global, bukan dari daya saing ekspor.
Sementara itu, realisasi belanja subsidi dan kompensasi pada semester pertama 2026 mencapai Rp233 triliun, meningkat 44,4 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun 2025. Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menjelaskan bahwa kenaikan belanja subsidi dan kompensasi dipengaruhi oleh fluktuasi harga minyak mentah, pergerakan nilai tukar rupiah, serta meningkatnya konsumsi BBM bersubsidi.
Di sisi lain, pergerakan saham bank-bank berkapitalisasi besar juga bergerak bervariasi pada penutupan perdagangan Jumat (10/7). Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) ditutup melemah 0,40 persen, sementara saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) stagnan di level Rp3.420 per saham. Analis RHB Sekuritas, Andrey Wijaya, mengatakan bahwa pergerakan saham perbankan saat ini dipengaruhi kombinasi sentimen global dan domestik.
Untuk menjaga inflasi tetap terjaga di kisaran 2,5 plus minus 1 persen, pemerintah akan mendorong beberapa insentif, termasuk insentif untuk industri chemicals. Impor bahan baku plastik akan dinolkan dan pemerintah sedang membuat peraturan yang relevan.
Dalam beberapa waktu terakhir, rupiah berhasil menembus Rp18.000 per dolar AS. Airlangga menegaskan bahwa pemerintah akan berupaya menjaga inflasi tetap terjaga dan mendorong beberapa insentif untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi.
Sebagai kesimpulan, penguatan nilai tukar rupiah menjadi Rp18.065 per dolar AS merupakan hasil dari kombinasi faktor eksternal dan internal. Pemerintah yakin bahwa fundamental ekonomi dalam negeri tetap kuat dan akan terus mendorong beberapa insentif untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan menjaga inflasi tetap terjaga.
