Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 05 Mei 2026 | Jakarta, 5 Mei 2026 – Nilai tukar rupiah terus berada di zona lemah pada sesi perdagangan Selasa, menembus level 17.424 per dolar AS pada penutupan. Penurunan sebesar 30 poin atau 0,17% ini merupakan reaksi langsung atas ketegangan geopolitik yang memuncak di Selat Hormuz antara Amerika Serikat dan Iran, serta kebijakan moneter ketat yang dijalankan Federal Reserve.
Menurut pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi, sentimen pasar tetap rapuh setelah insiden militer pada Senin (4/5) di mana pasukan AS dan Iran terlibat tembak-menembak di perairan strategis. “Kenaikan ketegangan tersebut secara efektif menghancurkan gencatan senjata yang rapuh dan meningkatkan kekhawatiran akan gangguan pasokan minyak yang berkepanjangan,” ujar Assuaibi dalam kutipan Antara.
Data Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) yang dirilis Bank Indonesia menunjukkan pergerakan dari 17.368 ke 17.425 per dolar AS sebelum akhirnya stabil di 17.424 pada penutupan. Sementara data RTI Infokom mencatat kurs pada tengah hari berada di 17.409 per dolar AS, dengan rentang perdagangan antara 17.385 hingga 17.437.
| Waktu | Kurs (IDR/USD) |
|---|---|
| Pembukaan (09:15 WIB) | 17.400 |
| Tengah Hari (15:11 WIB) | 17.409 |
| Penutupan (16:00 WIB) | 17.424 |
Selain rupiah, sejumlah mata uang Asia juga mengalami pelemahan terhadap greenback, termasuk yuan China (‑0,05%), yen Jepang (‑0,04%) dan won Korea (‑0,10%). Hanya dolar Taiwan yang mencatat penguatan sebesar 0,11%.
Para analis menilai bahwa gejolak di Timur Tengah tidak hanya menekan nilai tukar, tetapi juga memicu kenaikan harga minyak mentah. Kenaikan harga energi berimplikasi pada inflasi domestik, yang pada gilirannya dapat memaksa Bank Indonesia mempertimbangkan kebijakan suku bunga yang lebih ketat untuk menahan tekanan harga.
Dalam konteks domestik, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,61% YoY pada kuartal pertama 2026. Konsumsi rumah tangga tetap menjadi pendorong utama pertumbuhan, didukung oleh mobilitas penduduk pada libur nasional dan hari besar keagamaan.
Namun, data manufaktur menunjukkan kontraksi pada indeks PMI, dipicu oleh kenaikan biaya impor bahan baku yang dipengaruhi oleh harga minyak. “Akibat kenaikan harga minyak, impor barang-barang menjadi lebih mahal, sehingga memengaruhi sektor manufaktur,” tambah Assuaibi.
Lukman Leong dari Doo Financial Futures menegaskan bahwa eskalasi konflik di Timur Tengah meningkatkan volatilitas pasar. “Rupiah berpotensi kembali melemah terhadap dolar AS yang menguat, merespons eskalasi di Timur Tengah,” kata Leong.
Melihat prospek ke depan, Assuaibi memperkirakan rupiah akan terus berfluktuasi dalam kisaran 17.390‑17.460 per dolar AS pada sesi perdagangan besok, tergantung pada perkembangan situasi di Selat Hormuz dan kebijakan moneter Fed.
Secara keseluruhan, kombinasi faktor eksternal—ketegangan geopolitik, kebijakan suku bunga Amerika, serta dinamika pasar komoditas—menjadi pendorong utama melemahnya rupiah hari ini. Pemerintah dan otoritas moneter dihadapkan pada tantangan menjaga stabilitas nilai tukar sambil mendukung pertumbuhan ekonomi yang masih berada pada lintasan positif.
