Buaya Racun di Sungai Mandar Meninggal Setelah Makan Umpan Beracun, Warga Tingkatkan Perburuan

Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 05 Mei 2026 | Seekor buaya berukuran hampir tiga meter yang selama beberapa minggu terakhir menjadi sasaran serangan di kawasan Sungai Mandar, Kabupaten Sulawesi Barat, ditemukan mati mengapung pada pagi hari Senin, 4 Mei 2026. Hewan yang kemudian diidentifikasi sebagai buaya betina ini diduga menelan umpan beracun yang dipasang secara sengaja oleh warga setempat sebagai upaya terakhir menghentikan serangan yang menewaskan seorang pria berusia 50 tahun.

Buaya yang dimaksud sebelumnya telah tercatat menyerang empat orang dalam rentang waktu kurang dari sebulan. Salah satu korban yang paling berkesan adalah Muhlis, pria berusia 50 tahun yang tewas pada 24 April 2026 saat sedang mandi di Sungai Mandar. Para saksi menggambarkan buaya yang menyerang Muhlis berwarna kecoklatan dengan bercak hitam tidak beraturan, serta ekor dan punggung yang tampak bergerigi.

Baca juga:

Setelah penemuan bangkai, warga segera melaporkan kejadian kepada pihak berwenang. Bangkai buaya kemudian dievakuasi ke daratan dan dikubur secara layak oleh penduduk setempat. Salman menambahkan bahwa buaya yang mati tersebut merupakan betina, sementara masih ada buaya jantan serta anak buaya berukuran sekitar satu meter yang masih berkeliaran di sekitar sungai.

Insiden ini menambah ketegangan di kawasan Tinambung, Kecamatan Tinambung, dimana konflik antara manusia dan buaya telah menjadi masalah kronis selama beberapa bulan terakhir. Warga mengaku semakin khawatir karena empat serangan terjadi dalam waktu singkat, satu di antaranya berujung pada kematian. Mereka menilai penggunaan umpan beracun sebagai upaya terakhir untuk melindungi diri, meski menyadari risiko dampak lingkungan yang mungkin timbul.

  • Ukuran buaya yang ditemukan: 2,8 meter.
  • Waktu penemuan: sekitar pukul 07.00 WIB, 4 Mei 2026.
  • Jumlah umpan beracun yang dipasang: empat buah; satu dimakan.
  • Korban tewas sebelumnya: Muhlis, 50 tahun, 24 April 2026.

Pihak kepolisian dan Dinas Kehutanan setempat menyatakan akan melakukan penyelidikan lebih lanjut terkait penggunaan racun serta menilai dampak lingkungan yang mungkin timbul. Sementara itu, masyarakat diminta untuk tetap waspada dan menghindari aktivitas di sungai sampai situasi dinyatakan aman.

Para ahli biologi menegaskan bahwa buaya air tawar memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem sungai. Namun, konflik dengan manusia dapat muncul bila habitat alami mereka terganggu atau bila manusia memasuki wilayah buaya tanpa pengetahuan yang memadai. Penggunaan bahan beracun tidak hanya berisiko membunuh buaya target, tetapi juga dapat menimbulkan konsekuensi tak terduga bagi fauna lain serta menurunkan kualitas air.

Warga setempat menyatakan bahwa meski buaya yang mati telah dikubur, mereka tetap berencana melanjutkan perburuan buaya lain yang dianggap mengancam keselamatan. “Kita masih akan melakukan perburuan karena masih ada temannya,” kata Salman menutup pernyataannya.

Kejadian ini menegaskan perlunya pendekatan terpadu antara pemerintah, penegak hukum, dan komunitas lokal untuk mengelola konflik manusia‑satwa secara berkelanjutan, sekaligus memastikan keselamatan publik tanpa mengorbankan keseimbangan ekologi. Upaya edukasi mengenai perilaku buaya, penetapan zona aman, serta pemantauan populasi buaya secara ilmiah diharapkan dapat menjadi solusi jangka panjang yang lebih efektif dibandingkan tindakan berbasis racun.

Dengan menutup kasus buaya racun yang baru saja mati, otoritas setempat diharapkan dapat memperkuat koordinasi dengan lembaga konservasi serta meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga habitat alami satwa liar sambil melindungi keselamatan warga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *