Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 05 Mei 2026 | Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi bulan April 2026 berada pada level terendah sejak awal tahun, hanya 0,13 persen secara month-to-month (mtm). Angka ini menurun tajam dibandingkan inflasi Maret 2026 yang tercatat 0,41 persen. Meskipun inflasi bulanan lemah, indeks harga konsumen (IHK) secara tahunan tetap berada di atas 2 persen, yakni 2,42 persen YoY, menandakan tekanan harga masih ada pada beberapa sektor utama.
Deputi Bidang Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menjelaskan bahwa kenaikan harga paling signifikan berasal dari sektor transportasi, khususnya tarif angkutan udara domestik. Kenaikan tarif pesawat menyumbang andil inflasi sebesar 0,11 persen, hampir seluruhnya menggerakkan angka 0,12 persen total inflasi bulanan. Harga bahan bakar minyak (BBM) turut menambah tekanan dengan kontribusi 0,02 persen.
Selain transportasi, komoditas pangan seperti minyak goreng dan tomat memberikan andil inflasi masing-masing 0,05 dan 0,03 persen. Beras serta nasi dengan lauk juga menambah 0,02 persen masing‑masing. Namun, sejumlah komoditas menunjukkan deflasi, menurunkan beban inflasi secara keseluruhan. Daging ayam ras mencatat deflasi 0,11 persen, emas perhiasan 0,09 persen, cabai rawit 0,06 persen, dan telur ayam ras 0,04 persen.
Berikut rangkuman komponen utama yang memengaruhi inflasi April 2026:
| Kelompok Pengeluaran | Inflasi Bulanan (mtm) | Andil Terhadap Total |
|---|---|---|
| Transportasi | 0,99 % | 0,12 % |
| Pangan (Minyak Goreng, Tomat, Beras) | 0,10 % | 0,07 % |
| Deflasi (Daging Ayam, Emas Perhiasan, Cabai) | -0,30 % | -0,25 % |
Komponen inti (core) inflasi, yang mencakup barang dan jasa tidak terpengaruh oleh harga yang diatur pemerintah, mencatat inflasi tahunan sebesar 2,44 persen dengan andil 1,56 persen terhadap total inflasi. Di antara komoditas inti, emas perhiasan, minyak goreng, nasi dengan lauk, dan biaya kuliah memberikan kontribusi terbesar.
Sektor harga bergejolak—yang meliputi barang dengan fluktuasi harga tinggi seperti daging ayam, beras, dan telur—menunjukkan inflasi tahunan 3,37 persen, memberikan andil 0,56 persen. Sedangkan harga yang diatur pemerintah (misalnya tarif angkutan udara, sigaret kretek mesin, dan sigaret kretek tangan) mencatat inflasi 1,53 persen dengan kontribusi 0,30 persen.
Emas perhiasan menjadi sorotan khusus. Setelah mengalami reli harga selama 30 bulan berturut‑turut, pasar emas perhiasan mulai menunjukkan deflasi sebesar 3,76 persen pada April 2026. Penurunan ini dipicu oleh pelambatan permintaan konsumen serta kebijakan moneter yang menurunkan ekspektasi inflasi. Deflasi emas perhiasan memberikan efek menurunkan indeks harga inti, meskipun masih berada di atas target inflasi Bank Indonesia.
Secara geografis, mayoritas provinsi di Indonesia mencatat inflasi di bawah 0,5 persen, dengan beberapa daerah seperti DKI Jakarta dan Jawa Barat menunjukkan sedikit kenaikan karena tekanan tarif transportasi. Harga bahan pokok seperti beras dan minyak goreng tetap relatif stabil, membantu menahan laju inflasi secara keseluruhan.
Para analis ekonomi menilai bahwa tekanan inflasi akan tetap terkendali selama pemerintah mampu menjaga stabilitas tarif BBM dan mengendalikan kenaikan tarif angkutan udara. Di sisi lain, risiko inflasi kembali naik dapat muncul jika harga pangan dunia mengalami lonjakan atau jika kebijakan moneter berubah drastis.
Kesimpulannya, inflasi April 2026 berada pada level terendah berkat penurunan harga emas perhiasan dan deflasi pada beberapa komoditas pangan, sementara kenaikan tarif pesawat dan BBM menjadi satu‑satunya pendorong inflasi bulanan. Kebijakan yang menyeimbangkan antara penstabilan harga energi dan dukungan pada sektor pangan diperkirakan akan menjadi kunci untuk menjaga inflasi tetap terkendali hingga akhir tahun.
