Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 01 Mei 2026 | Jakarta, 30 April 2026 – Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mengalami penurunan signifikan pada sesi perdagangan Kamis, 30 April 2026, meski BCA baru saja mengumumkan pelaksanaan program buyback senilai Rp5 triliun. Data Real Time Index (RTI) mencatat transaksi harian BBCA di pasar negosiasi mencapai Rp2 triliun, menjadikan pasar ini sebagai arena likuiditas utama menjelang libur panjang Hari Buruh Internasional.
Harga saham BBCA pada pasar negosiasi turun 2,35 % menjadi Rp5.871 per lembar, dengan volume perdagangan mencapai 3.330.897 lembar. Sementara di pasar reguler, harga saham menurun 2,09 % menjadi Rp5.850, dengan total frekuensi perdagangan 71.464 kali dan volume 6.364.951 lembar. Nilai transaksi total di pasar reguler tercatat Rp3,7 triliun, menambah total nilai transaksi harian pasar modal Indonesia menjadi Rp21,9 triliun.
| Pasar | Harga Penutupan | Penurunan | Volume (lembar) | Nilai Transaksi (triliun Rp) |
|---|---|---|---|---|
| Negosiasi | Rp5.871 | -2,35 % | 3.330.897 | 2,0 |
| Reguler | Rp5.850 | -2,09 % | 6.364.951 | 3,7 |
Pasar negosiasi, yang beroperasi melalui tawar‑menawar harga secara pribadi namun tetap berada di bawah pengawasan bursa, menunjukkan bahwa investor institusi masih aktif memperdagangkan saham BBCA meski harga berada pada level terendah mingguan, yaitu Rp5.800. Harga tertinggi tercapai pada hari itu adalah Rp5.975.
Program buyback yang dimulai pada 28 April 2026 diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan pasar dan menurunkan jumlah saham beredar, sehingga EPS (Earnings Per Share) per lembar dapat naik. Namun, respons pasar tampak lambat. Pada 28 April, harga BBCA sempat ditutup di Rp6.000, kemudian turun menjadi Rp5.975 pada 29 April, dan kembali menurun menjadi Rp5.850 pada 30 April. Penurunan berkelanjutan ini mencerminkan tekanan jual yang masih kuat meski BCA mengalokasikan dana besar untuk membeli kembali sahamnya.
Faktor lain yang mempengaruhi pergerakan BBCA adalah pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). IHSG ditutup pada level 6.956,80, turun 2,03 % dibandingkan penutupan sebelumnya. Dalam rentang hari tersebut, IHSG memuncak di 7.109 dan terendah di 6.876,57. Sebanyak 576 saham melemah, 133 menguat, dan 105 bergerak datar, menjadikan tekanan jual luas di pasar.
Kapitalisasi pasar BBCA tetap berada di angka Rp721,16 triliun, menempatkannya di posisi teratas dalam sektor perbankan. Namun, penurunan harga saham dapat memengaruhi persepsi investor asing dan domestik mengenai valuasi bank tersebut. Analis mencatat bahwa meskipun program buyback dapat meningkatkan nilai intrinsik, faktor eksternal seperti sentimen global, kebijakan moneter, dan volatilitas pasar modal tetap menjadi tantangan utama.
Para analis pasar menilai bahwa BBCA berada pada fase koreksi teknikal. Level support kuat berada di sekitar Rp5.800, sementara resistance pertama berada di Rp5.975. Jika tekanan jual berlanjut dan harga menembus support, risiko penurunan lebih dalam dapat muncul, mengingat tekanan pada sektor perbankan secara umum.
Secara keseluruhan, meskipun BCA meluncurkan program buyback besar‑besar, pergerakan harga saham BBCA masih dipengaruhi oleh faktor likuiditas harian, sentimen pasar, dan dinamika indeks utama. Investor disarankan untuk memperhatikan volume transaksi dan level teknikal sebelum mengambil keputusan perdagangan.
Dengan total nilai transaksi harian mencapai rekor Rp2 triliun di pasar negosiasi dan total nilai transaksi pasar reguler Rp3,7 triliun, BBCA tetap menjadi salah satu saham dengan likuiditas tertinggi di Bursa Efek Indonesia. Namun, penurunan harga dan tekanan jual menuntut perhatian khusus bagi para pelaku pasar.
