Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 30 April 2026 | Raja Charles III bertemu Trump di Gedung Putih pada 29 April 2026, menandai pertemuan diplomatik yang penuh kehangatan sekaligus humor. Kunjungan resmi sang monarki Inggris ke Amerika Serikat ini tidak hanya menjadi sorotan karena kehadirannya, tetapi juga karena beragam topik yang dibahas, mulai dari candaan mengenai bahasa Prancis hingga isu geopolitik seperti Iran dan Ukraina.
Pertemuan dimulai dengan sambutan hangat Presiden Donald Trump, yang menyoroti kecintaannya pada keluarga kerajaan Inggris. Dalam pidatonya, Trump mengingat ibunya, Mary, yang sejak lama mengagumi Ratu Elizabeth II dan bahkan pernah mengungkapkan kekaguman terhadap putra mahkota Charles ketika masih muda. “Ibu saya selalu menonton Ratu Elizabeth di televisi, dan dia berkata, ‘Charles, lihat, Charles muda. Dia sangat lucu,'” ujar Trump sambil tersenyum.
Saat kedua pemimpin duduk bersama, suasana menjadi lebih santai ketika Raja Charles menanggapi pernyataan Trump mengenai bahasa. Trump sebelumnya mengatakan, “Jika bukan karena Amerika Serikat, Eropa akan berbicara bahasa Jerman.” Charles membalas dengan candaan, “Kalau bukan karena kami, Anda mungkin akan berbicara bahasa Prancis.” Lelucon ini memicu tawa lepas di antara para tamu, menandai momen ringan dalam pertemuan yang tetap formal.
Selain humor, perbincangan juga menyentuh isu-isu strategis. Trump menegaskan dukungan Amerika Serikat terhadap Inggris dalam menghadapi tekanan Iran, sambil menekankan pentingnya kerja sama militer di kawasan Timur Tengah. Charles menanggapi dengan menyoroti peran bersama kedua negara dalam menjaga stabilitas regional, serta mengajak Amerika untuk meningkatkan kolaborasi intelijen.
Dalam konteks konflik Ukraina, Charles menyampaikan pidato di Kongres AS pada hari yang sama, menekankan pentingnya solidaritas Barat dan menolak segala bentuk kekerasan sebagai solusi. Trump kemudian memuji pidato Charles, menyebutnya “luar biasa” dan bahkan mengklaim bahwa pidato tersebut berhasil membuat anggota Demokrat berdiri, sebuah komentar yang kembali memicu tawa.
Hadiah simbolis juga dipertukarkan. Raja Charles memberikan lonceng emas besar yang diambil dari kapal selam Angkatan Laut Kerajaan Inggris, HMS Trump, sebagai tanda persahabatan dan sejarah bersama. “Semoga lonceng ini menjadi simbol hubungan erat dan masa depan cerah bagi kedua negara,” ujar Charles saat menyerahkan hadiah tersebut.
Berikut poin-poin utama yang dibahas dalam pertemuan tersebut:
- Hubungan Inggris‑AS: Penekanan pada persahabatan historis dan kerja sama di bidang pertahanan serta intelijen.
- Isu Iran: Diskusi tentang strategi bersama untuk menahan pengaruh Iran di Timur Tengah.
- Konflik Ukraina: Dukungan bersama terhadap kedaulatan Ukraina dan penolakan terhadap agresi militer.
- Lelucon diplomatik: Candaan mengenai bahasa Prancis dan Jerman yang memecah suasana tegang.
- Hadiah simbolis: Lonceng emas kapal selam sebagai simbol ikatan historis.
Kunjungan ini juga dihadiri tokoh-tokoh ternama seperti pendiri Amazon Jeff Bezos, CEO OpenAI Sam Altman, dan CEO Apple Tim Cook, menambah kesan global pada pertemuan tersebut. Meskipun terdapat perbedaan pandangan dalam beberapa isu internasional, suasana hangat yang diciptakan Trump dan Charles menunjukkan bahwa diplomasi dapat berjalan bersamaan dengan keakraban pribadi.
Secara keseluruhan, pertemuan Raja Charles III dengan Donald Trump menegaskan kembali pentingnya aliansi transatlantik di tengah tantangan global. Dengan menyeimbangkan humor, penghargaan pribadi, dan diskusi kebijakan strategis, kedua pemimpin berhasil menyampaikan pesan persahabatan sekaligus kesiapan bersama menghadapi ancaman dunia.
