Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 29 April 2026 | Raja Charles III tiba di Washington, D.C. pada Senin (27 April 2026) menyusul kedatangan Presiden Donald Trump. Kunjungan kenegaraan ini menandai pertemuan pertama sang raja dengan presiden Amerika Serikat sejak era Perang Dingin, dan menjadi sorotan utama media internasional.
Pada Selasa (28 April 2026) Charles III menghadap Kongres Amerika Serikat, menjabat di podium yang biasanya diperuntukkan bagi kepala negara asing. Dalam pidatonya, sang raja menekankan pentingnya solidaritas NATO di tengah konflik yang terus berlangsung di Ukraina, serta menegaskan komitmen Inggris untuk memperkuat aliansi Atlantik. “Kita berada dalam masa ketidakpastian besar,” ujar Charles, “tetapi persatuan NATO tetap menjadi jaminan keamanan bersama.” Pidato tersebut memperoleh sambutan hangat, dengan beberapa anggota Kongres memberikan tepuk tangan setelah ia menekankan dukungan bagi negara‑negara anggota NATO.
Selain isu keamanan, Charles III menyisipkan pesan kemanusiaan yang menyinggung korban kejahatan seksual internasional. Ia menyatakan, “Kita harus memberi dukungan kepada para korban dari berbagai permasalahan sosial yang masih ada hingga hari ini.” Pengamat menilai pernyataan itu sebagai referensi halus kepada kasus Jeffrey Epstein, di mana adik Charles, Pangeran Andrew, pernah terlibat. Meski demikian, tidak ada pertemuan resmi antara sang raja dengan korban Epstein selama kunjungan, karena proses hukum masih berjalan di Inggris.
Di sisi lain, Presiden Donald Trump memberikan sambutan hangat kepada tamu kerajaan. Ia mengingatkan momen pribadi ketika ibunya, Melania Trump, pernah mengungkapkan ketertarikan pada Charles saat masih muda. “Betapa indahnya hari khas Inggris seperti ini,” kata Trump, menambah suasana santai pada acara kenegaraan. Ia juga menegaskan kembali “hubungan khusus” antara Washington dan London, meski kedua negara sedang berselisih pandang mengenai kebijakan pertahanan dan sanksi terhadap Iran.
- Agenda utama Raja Charles III di AS:
- Pidato di Kongres menekankan NATO dan dukungan untuk Ukraina.
- Pernyataan kemanusiaan terkait korban kejahatan seksual.
- Dialog bilateral dengan pejabat tinggi AS tentang kerjasama ekonomi dan energi hijau.
- Reaksi publik dan politik:
- Beberapa anggota Kongres memuji keberanian Charles mengangkat isu korban Epstein.
- Kelompok pro‑NATO menilai pidato tersebut sebagai dorongan moral bagi aliansi.
- Kritik muncul dari pihak yang menilai kunjungan ini terlalu simbolis di tengah ketegangan global.
Kunjungan ini juga diwarnai oleh acara resepsi di Kedutaan Besar Inggris, di mana Ratu Camilla bertemu dengan aktivis hak perempuan dan korban kekerasan dalam rumah tangga. Sementara itu, Charles III tidak bertemu langsung dengan para korban Epstein, keputusan yang diambil untuk menghindari intervensi pada penyelidikan yang sedang berlangsung.
Secara keseluruhan, kunjungan Raja Charles III ke Amerika Serikat menandai babak baru dalam hubungan Inggris‑AS. Pidato bersejarah di Kongres tidak hanya menegaskan peran strategis NATO, tetapi juga memperlihatkan sisi humanis sang monarki yang bersedia mengangkat isu‑isu sensitif di panggung internasional. Meskipun terdapat perbedaan kebijakan antara pemerintahan Trump dan pemerintahan Inggris, kunjungan ini memperlihatkan bahwa ikatan historis dan budaya tetap menjadi landasan utama dalam diplomasi kedua negara.
Ke depan, pengamat politik memperkirakan bahwa dialog lanjutan mengenai keamanan regional, energi hijau, serta penanganan kasus Epstein akan menjadi fokus utama dalam hubungan bilateral. Kunjungan ini diharapkan menjadi katalisator bagi kerja sama yang lebih intensif, sekaligus menegaskan kembali peran penting monarki Inggris dalam arena geopolitik modern.
