Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 27 April 2026 | Siraman menjelang pernikahan Syisa Hadju dan El Rumi pada 24 April 2026 menjadi sorotan utama media sosial setelah ronce melati yang terinspirasi dari serial Bridgerton muncul di bahu pengantin wanita. Desain ronce ini tidak hanya mempertahankan tradisi Jawa, tetapi juga menyisipkan elemen mewah berupa kristal Swarovski, menciptakan siluet elegan ala era Regency.
Desainer Didiet Maulana, pendiri label Svarna by Ikat Indonesia, menjelaskan bahwa konsep tersebut lahir dari permintaan khusus Syisa yang mengaku mengagumi gaya aristokratik dalam serial televisi Inggris tersebut. “Saya ingin menggabungkan keanggunan Bridgerton dengan makna spiritual siraman,” ungkap Didiet dalam unggahan Instagram pada 25 April 2026. Hasilnya adalah ronce melati berlapis drapery biru langit, dihiasi permata berkilau yang menambah kesan megah namun tetap bersahaja.
Berbeda dengan ronce melati tradisional yang biasanya berupa untaian sederhana menutupi kepala atau bahu, versi Syisa memiliki tiga karakteristik utama:
- Model drapery yang menjuntai hingga dada, menyerupai cape bangsawan.
- Untaian melati segar dipadukan dengan kristal Swarovski berwarna mutiara, memberikan efek kilau lembut.
- Tambahan rangkaian melati di pinggang yang menurunkan alur visual hingga ke lutut, menambah dimensi dramatis.
Keunikan tersebut membuat penampilan Syisa langsung viral di platform Instagram, TikTok, dan Twitter. Ribuan komentar memuji kreativitas Didiet serta menyebut ronce melati sebagai “inspirasi wajib” bagi calon pengantin yang ingin menggabungkan tradisi dengan tren internasional. Tak hanya warganet, para makeup artist (MUA) juga melaporkan lonjakan permintaan untuk meniru desain tersebut dalam proyek mereka.
Menanggapi antusiasme tersebut, Didiet Maulana secara terbuka mengizinkan para perajin dan desainer untuk menyalin atau memodifikasi ronce melati yang ia ciptakan. Pada 26 April 2026, ia menuliskan, “Boleh banget, silakan diduplikasi, silakan berkarya, dengan ide yang baru tersebut.” Pernyataan ini dianggap sebagai langkah strategis untuk mendorong revitalisasi kerajinan tradisional Indonesia, sekaligus membuka peluang ekonomi bagi pengrajin lokal.
Berbagai vendor busana tradisional melaporkan peningkatan permintaan khusus untuk ronce yang menggabungkan bunga melati segar dengan aksesoris kristal. Bahkan, pernikahan di luar Jawa Barat dan Jakarta mulai mengadopsi konsep serupa, menandakan penyebaran tren yang cepat di seluruh nusantara.
Selain aspek estetika, ronce melati ini juga memiliki makna simbolis. Dalam tradisi Jawa, melati melambangkan kesucian dan kebersihan, sementara siraman merupakan ritual penyucian diri sebelum memasuki kehidupan berumah tangga. Penambahan kristal Swarovski menambah dimensi simbolik berupa harapan akan kebahagiaan yang bersinar dalam pernikahan baru.
Para pengamat budaya menilai kolaborasi antara desainer modern dan elemen adat seperti ini merupakan contoh sukses integrasi budaya. “Kita melihat bagaimana nilai-nilai tradisional tidak harus ditinggalkan, melainkan dapat diinterpretasikan ulang dengan bahasa visual kontemporer,” kata seorang pakar antropologi budaya dari Universitas Indonesia.
Dengan dukungan media, respons positif publik, serta kebijakan terbuka dari pencipta desain, ronce melati Syisa Hadju diproyeksikan akan menjadi standar baru dalam perencanaan siraman dan acara pra‑nikah di Indonesia. Tren ini tidak hanya memperkaya estetika pernikahan, tetapi juga membuka peluang kerja bagi perajin lokal, memperkuat ekonomi kreatif, serta melestarikan warisan budaya melalui inovasi.
Kesimpulannya, keberhasilan ronce melati Bridgerton menunjukkan bahwa kreativitas yang menghubungkan tradisi dan tren global dapat menciptakan fenomena viral yang berdampak luas, menjadikan desain tersebut inspirasi utama bagi generasi calon pengantin yang menginginkan pernikahan yang elegan, modern, sekaligus sarat makna.
