Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 23 April 2026 | Stadion Stamford Bridge kembali menjadi saksi duka bagi The Blues. Pada 23 April 2026, Chelsea resmi memecat pelatih kepala Liam Rosenior setelah serangkaian lima kekalahan beruntun tanpa mencetak satu gol sekaligus menorehkan rekor terburuk sejak musim 1912. Kekalahan telak 0‑3 melawan Brighton di American Express Community Stadium menjadi titik akhir yang memicu keputusan drastis manajemen.
Rosenior, yang dilantik pada 6 Januari 2026 menggantikan Enzo Maresca, sempat menorehkan start yang mengesankan. Pada bulan Januari, The Blues menyapu enam kemenangan beruntun, termasuk kemenangan melawan Napoli di fase grup Liga Champions. Namun, performa menghangat itu tidak bertahan lama. Pada pertengahan Februari, Chelsea mulai kehilangan keunggulan dalam pertandingan penting, dengan kebobolan di menit-menit akhir melawan West Ham United dan Wolverhampton Wanderers.
Masalah terbesar muncul pada pekan ke-34 Premier League ketika Chelsea menelan lima kekalahan beruntun tanpa mencetak gol. Rekor ini belum terjadi sejak 1912, tahun ketika klub masih berada di divisi rendah dan mencatatkan musim paling suram dalam sejarahnya. Statistik yang menambah kepahitan meliputi:
- xG (expected goals) hanya 0,04 pada babak pertama melawan Brighton, jauh di bawah rata-rata liga.
- Jumlah tembakan tepat sasaran hanya tiga dari total dua belas peluang.
- Persentase penguasaan bola di bawah 40 persen selama pertandingan.
- Kemenangan duel udara hanya 0 dari 8 percobaan.
- Rasio duel satu lawan satu hanya 20 persen.
Selain data kuantitatif, laporan internal mengungkapkan ketegangan di ruang ganti. Beberapa pemain, terutama yang berbahasa Spanyol seperti Enzo Fernandez dan Marc Cucurella, dikabarkan merasa kurang cocok dengan pendekatan taktis Rosenior. Keputusan rotasi pemain, termasuk penempatan penjaga gawang dan menit bermain Josh Acheampong, menambah rasa ketidakpuasan. Sejumlah veteran tim menyuarakan kekecewaan atas kurangnya motivasi dan kepemimpinan yang solid.
Manajemen Chelsea, yang dipimpin oleh direktur eksekutif, menyatakan keputusan pemecatan bukanlah hal yang diambil dengan ringan. Dalam pernyataan resmi, klub menekankan bahwa hasil dan performa tim berada jauh di bawah standar yang diperlukan. “Liam selalu bertindak dengan integritas dan profesionalisme tertinggi sejak penunjukannya, namun hasil akhir tidak dapat diterima,” ujar juru bicara klub.
Untuk menstabilkan situasi, Calum McFarlane ditunjuk sebagai pelatih interim. McFarlane, mantan asisten pelatih di Strasbourg, diharapkan dapat menurunkan beban tekanan pada skuad dan memulihkan kepercayaan diri pemain. Fokus utama tim kini adalah memperbaiki lini serang yang tumpul serta meningkatkan kecepatan lari dalam duel, dua aspek yang menjadi kelemahan utama Chelsea musim ini.
Perspektif ke depan tetap suram bagi The Blues. Dengan posisi tujuh klasemen dan hanya 48 poin pada pekan ke-34, peluang masuk kembali ke Liga Champions menurun drastis. Klub harus segera menyiapkan rencana transfer musim panas untuk mengisi kekosongan di lini depan, sementara juga mempertimbangkan perubahan taktik yang lebih fleksibel. Jika tidak, Chelsea berisiko terpuruk lebih jauh dan menghadapi ancaman degradasi performa di kompetisi domestik maupun Eropa.
Secara keseluruhan, pemecatan Rosenior menandai babak kelam dalam sejarah Chelsea. Rekor terburuk sejak 1912 menjadi simbol kegagalan struktural yang membutuhkan solusi jangka panjang. Manajemen, pemain, dan suporter kini menantikan langkah konkret yang dapat mengembalikan kejayaan The Blues ke jalur yang benar.
