Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 22 April 2026 | Rosdiana Silaban, perempuan Batak berusia 52 tahun dari Pematangsiantar, Sumatera Utara, memulai perjalanan usahanya dengan sebuah tikar anyaman yang diwariskan oleh ayahnya. Tikar sederhana itu bukan sekadar alas duduk, melainkan simbol ketekunan dan kearifan lokal yang kemudian diubah menjadi pijakan kuat dalam mengembangkan bisnis tas rotan yang kini menjadi incaran banyak pembeli.
Berawal sebagai penenun ulos tradisional sejak usia 18 tahun, Rosdiana menghabiskan 34 tahun menguasai teknik tenun yang diwariskan turun-temurun. Selama dekade pertama kariernya, ia bekerja di pabrik kecil di Jalan Sekata, Pematangsiantar, sebelum memutuskan melanjutkan usaha secara mandiri setelah pabrik tersebut gulung tikar. Dengan modal alat tenun bekas dan benang yang dipinjam, ia menenun ulos di teras rumahnya sambil mengurus tiga anaknya.
Kesulitan ekonomi memaksa Rosdiana mencari sumber penghasilan alternatif. Pada tahun 2022, ketika permintaan ulos mulai menurun, ia teringat pada tikar kayu warisan ayahnya yang terbuat dari rotan. Ia mulai mempelajari cara memotong, merajut, dan memperkuat anyaman rotan menjadi tas yang praktis dan estetis. Proses percobaan dimulai di teras rumahnya, di mana ia menggabungkan teknik tenun tradisional dengan desain modern.
Berbagai tantangan dihadapi, termasuk keterbatasan peralatan dan pengetahuan desain. Namun, semangat pantang menyerah Rosdiana membuahkan hasil. Ia berhasil menciptakan tiga model tas rotan pertama: tas selempang sederhana, tote bag dengan motif batak, dan clutch elegan yang dihiasi manik-manik tenun ulos. Model-model tersebut mendapat respon positif dari tetangga dan pasar lokal.
Popularitas tas rotan Rosdiana melonjak ketika seorang influencer mode lokal menampilkan produk tersebut dalam unggahan Instagram pada akhir 2023. Penjualan daring meningkat tajam, dan permintaan dari kota-kota besar seperti Medan, Jakarta, dan Surabaya mulai mengalir. Untuk memenuhi permintaan, Rosdiana memperluas workshopnya, merekrut dua putrinya serta beberapa pemuda setempat yang terampil dalam mengolah rotan.
Berikut rangkaian langkah utama yang diambil Rosdiana dalam mengembangkan bisnis tas rotan:
- Identifikasi bahan baku: Memilih rotan kualitas tinggi dari hutan lestari di Kabupaten Toba.
- Pengembangan desain: Menggabungkan motif tradisional Batak dengan tren fashion terkini.
- Prototipe dan uji kualitas: Membuat sampel, menguji daya tahan, dan menyesuaikan ukuran.
- Pemasaran digital: Membuat akun media sosial, mengunggah foto produk, dan berinteraksi dengan pembeli.
- Distribusi: Menjalin kerja sama dengan toko kerajinan lokal dan platform e‑commerce.
Keberhasilan tersebut tidak lepas dari dukungan keluarga. Suami Rosdiana, seorang sopir, berperan sebagai pengantar bahan baku dan pengiriman produk. Anak-anaknya membantu mengelola keuangan serta mengurus pemasaran daring. Dengan kerja tim, pendapatan keluarga meningkat tiga kali lipat dibandingkan sebelum usaha tas rotan dimulai.
Selain aspek ekonomi, usaha tas rotan Rosdiana turut melestarikan kearifan lokal. Setiap tas mengusung nilai budaya melalui motif ulos yang diukir pada anyaman rotan, sehingga pembeli tidak hanya memperoleh barang fungsional, tetapi juga sepotong warisan budaya Batak. Hal ini menjadi daya tarik utama bagi konsumen yang mengutamakan produk berkelanjutan dan berbobot budaya.
Hingga pertengahan 2026, Rosdiana telah memproduksi lebih dari 5.000 tas rotan dengan total omset mencapai Rp 1,2 miliar. Produk-produknya dipajang di pameran kerajinan nasional dan mendapat penghargaan “Produk Kreatif Daerah” pada ajang Festival Industri Kreatif Indonesia. Keberhasilan ini menginspirasi banyak pengrajin wanita lain di Sumatera Utara untuk memanfaatkan sumber daya alam setempat dan mengembangkan usaha berbasis kerajinan tangan.
Kesimpulannya, perjalanan Rosdiana dari menenun ulos hingga mengubah tikar peninggalan ayah menjadi bisnis tas rotan yang sukses menggambarkan kekuatan inovasi, kerja keras, dan dukungan keluarga. Dengan menggabungkan tradisi dan tren modern, ia tidak hanya meningkatkan kesejahteraan keluarganya, tetapi juga mengangkat citra kerajinan Batak ke panggung nasional.
