Kapal Kontainer Prancis Ditembak Peringatan di Selat Hormuz, AS Klaim Usir 27 Kapal dalam Seminggu

Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 21 April 2026 | Washington – Komando Pusat militer Amerika Serikat (CENTCOM) mengumumkan bahwa dalam seminggu terakhir, pasukannya berhasil menolak 27 kapal yang mencoba memasuki atau meninggalkan pelabuhan Iran setelah penerapan blokade laut di Selat Hormuz. Insiden paling menonjol melibatkan kapal kontainer berlayar asal Prancis, bernama Touska, yang menolak peringatan radio dan kemudian ditembak peringatan oleh kapal perusak USS Spruance.

Menurut laporan yang diangkat dari sumber resmi militer AS dan dilaporkan oleh media internasional, USS Spruance menembakkan serangkaian peluru berkaliber 5 inci dari meriam Mk-45 ke sistem propulsi kapal Touska. Proyektil tersebut masing-masing memiliki berat sekitar 31 kilogram dan daya ledak setara dengan 4,5 kilogram TNT. Tindakan itu diambil setelah kapten Touska mengabaikan peringatan radio yang berulang kali meminta kapal untuk menghentikan laju dan kembali ke jalur aman.

Baca juga:

Setelah penembakan, kapal Touska melambat dan akhirnya disita oleh Angkatan Laut Amerika Serikat di Teluk Oman pada Minggu (19/4/2026). Tim Marinir AS kemudian melakukan pemeriksaan intensif terhadap lebih dari seribu kontainer yang berada di dalam kapal, dengan tujuan memastikan tidak ada barang yang melanggar sanksi internasional atau mengancam keamanan regional.

Berikut ringkasan langkah-langkah operasi yang dilaporkan:

  • Pengiriman peringatan radio kepada Touska selama tiga kali berturut-turut.
  • Penyebaran kapal perusak USS Spruance ke zona strategis Selat Hormuz.
  • Penembakan meriam Mk-45 yang menargetkan sistem propulsi kapal.
  • Penahanan kapal di Teluk Oman dan pemeriksaan kontainer oleh Marinir.
  • Pertimbangan penarikan kapal ke Oman atau mengizinkannya berlayar ke pelabuhan Bandar Abbas, Iran, bila memungkinkan.

Kevin Donegan, pensiunan wakil laksamana dan mantan komandan Angkatan Laut tertinggi di Timur Tengah, menyatakan bahwa “pesan yang beredar adalah sebagian besar kapal tidak ingin berlayar ke sana”. Pernyataan ini mencerminkan keengganan pelaku industri pelayaran internasional untuk menantang blokade yang diprakarsai AS, mengingat potensi risiko keselamatan awak kapal dan kerugian ekonomi.

Pihak militer Iran tidak tinggal diam. Juru bicara militer Tehran mengulangi ancaman akan mengambil tindakan balasan terhadap setiap tindakan militer AS di wilayah perairan Iran, termasuk kemungkinan serangan terhadap kapal Angkatan Laut AS atau fasilitas logistik di wilayah tersebut.

Sementara itu, para analis geopolitik menilai bahwa aksi ini menandai eskalasi signifikan dalam konfrontasi antara Amerika Serikat dan Iran. Blokade Selat Hormuz, jalur laut strategis yang mengalirkan sekitar 20% produksi minyak dunia, telah menjadi titik fokus ketegangan sejak awal 2020-an. Penembakan terhadap kapal kontainer Prancis menambah daftar insiden militer yang dapat memicu respons balasan lebih luas.

Sejumlah opsi sedang dipertimbangkan oleh otoritas Amerika Serikat, termasuk:

  1. Menarik seluruh kapal yang ditahan ke pelabuhan Oman untuk inspeksi lebih lanjut.
  2. Mengizinkan kapal yang telah melalui proses pemeriksaan aman untuk melanjutkan pelayaran ke pelabuhan Iran.
  3. Mengintensifkan patroli militer di Selat Hormuz guna mencegah upaya penembusan kembali.

Awak kapal Touska dilaporkan akan segera dipulangkan ke Prancis, namun proses repatriasi masih bergantung pada hasil akhir pemeriksaan kontainer serta keputusan politik yang diambil oleh pemerintah Prancis dan sekutu-sekutunya.

Insiden ini juga menimbulkan pertanyaan tentang legalitas blokade laut dalam konteks hukum internasional. Beberapa pakar hukum maritim menekankan bahwa blokade harus diumumkan secara terbuka, dipatuhi oleh semua pihak, dan tidak boleh menimbulkan penderitaan yang tidak proporsional terhadap warga sipil.

Dengan 27 kapal yang berhasil dipaksa berbalik arah dalam seminggu, operasi AS menunjukkan kemampuan penegakan yang signifikan, namun juga meningkatkan risiko konflik yang lebih luas di wilayah Teluk Persia. Semua mata kini tertuju pada langkah selanjutnya yang akan diambil oleh Washington dan Tehran, serta respons komunitas internasional terhadap tindakan yang dapat memengaruhi stabilitas energi global.

Dalam konteks ekonomi, para pelaku pasar energi memperkirakan bahwa ketegangan yang meningkat dapat menambah volatilitas harga minyak dunia, terutama jika blokade berlanjut atau meluas ke wilayah perairan lain.

Secara keseluruhan, penembakan peringatan terhadap kapal kontainer Prancis di Selat Hormuz menegaskan kembali kompleksitas geopolitik di kawasan tersebut, sekaligus menyoroti tantangan bagi industri pelayaran internasional dalam menavigasi zona konflik yang semakin berbahaya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *