Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 20 April 2026 | Shreveport, Louisiana – Pada Minggu pagi, 19 April 2026, sebuah penembakan massal yang menewaskan delapan anak dan melukai dua orang dewasa mengguncang komunitas setempat. Pelaku, seorang pria berusia 31 tahun bernama Shamar Elkins, menembak mati tujuh anak kandungnya serta satu anak lain yang tidak berhubungan darah, sebelum akhirnya ditembak mati oleh aparat kepolisian dalam proses pengejaran.
Insiden dimulai sebelum matahari terbit di sebuah kawasan permukiman selatan pusat kota Shreveport. Menurut keterangan juru bicara Shreveport Police Department, Chris Bordelon, Elkins pertama kali menembak seorang wanita di satu rumah, kemudian berpindah ke rumah kedua di mana mayoritas korban berada. Di lokasi kedua, tujuh anak ditemukan tewas di dalam rumah, sementara satu anak ditemukan meninggal di atap, diduga saat berusaha melarikan diri. Seorang anak berusia 13 tahun berhasil selamat setelah melompat dari atap dan dibawa ke rumah sakit dengan kondisi stabil.
Kematiannya berakhir ketika polisi mengejar mobilnya di jalan raya dan menembaknya hingga tewas. Motif penembakan masih dalam penyelidikan, namun pihak berwenang menegaskan bahwa insiden ini merupakan kasus kekerasan domestik yang bereskalasi menjadi penembakan massal.
Daftar Korban Anak
| Nama | Usia (tahun) |
|---|---|
| Jayla Elkins | 3 |
| Shayla Elkins | 5 |
| Kayla Pugh | 6 |
| Layla Pugh | 7 |
| Markaydon Pugh | 10 |
| Sariahh Snow | 11 |
| Khedarrion Snow | 6 |
| Braylon Snow | 5 |
Selain delapan anak, dua perempuan dewasa juga menjadi korban tembakan. Salah satunya adalah istri pelaku, yang merupakan ibu dari sebagian besar anak-anak yang terbunuh. Kedua wanita tersebut berada dalam kondisi kritis di rumah sakit.
Reaksi masyarakat setempat mencerminkan keprihatinan mendalam. Kepala Kepolisian Shreveport, Wayne Smith, menyatakan hatinya hancur melihat tragedi ini. “Saya benar‑benar tidak tahu harus berkata apa. Hati saya hancur,” ujarnya dalam konferensi pers.
Perwakilan negara bagian Louisiana, Tammy Phelps, menambahkan bahwa beberapa anak sempat berusaha melarikan diri melalui pintu belakang rumah, namun terhalang oleh tembakan. Ia menekankan pentingnya dukungan psikologis bagi keluarga korban dan warga yang terdampak.
Berita ini menambah catatan suram penembakan massal di Amerika Serikat. Menurut data kepolisian, insiden ini menjadi salah satu penembakan paling mematikan dalam dua tahun terakhir dan tercatat sebagai penembakan massal terburuk pada tahun 2024‑2025.
Sejumlah faktor latar belakang pelaku terungkap. Elkins memiliki catatan kriminal terkait kepemilikan senjata api sejak 2019, serta pernah terlibat dalam insiden penembakan di sekitar area sekolah pada tahun yang sama. Catatan militer menunjukkan bahwa ia pernah mengabdi di Garda Nasional Angkatan Darat Louisiana selama tujuh tahun, namun tidak pernah menjalani penugasan luar negeri.
Komunitas Cedar Grove, tempat kejadian, kini berupaya memulihkan trauma. Lembaga sosial lokal mengorganisir sesi konseling gratis bagi warga, sementara sekolah-sekolah di sekitar wilayah menunda kegiatan belajar mengajar untuk memberikan ruang bagi proses pemulihan.
Kasus ini menyoroti kembali perdebatan nasional tentang regulasi senjata api dan penanganan kekerasan dalam rumah tangga. Pemerintah federal dan negara bagian diperkirakan akan mengevaluasi kebijakan yang ada guna mencegah tragedi serupa terulang kembali.
