Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 11 Agustus 2026 | Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan II 2026 mencapai 5,29 persen secara tahunan. Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan bahwa konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi, dengan kontribusi sekitar 53,32 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan bahwa pertumbuhan konsumsi rumah tangga mencerminkan daya beli masyarakat yang secara umum masih terjaga.
Sektor pengolahan, perdagangan, dan konstruksi menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi di Pulau Jawa, sementara di Sumatra, sektor perdagangan dan industri pengolahan menjadi pendorong utama. Di Bali dan Nusa Tenggara, pertambangan dan penggalian menjadi sektor pendorong terbesar. BPS juga mencatat bahwa pertumbuhan ekonomi di setiap wilayah memiliki karakteristik dan sektor unggulan yang berbeda.
Di Jawa Tengah, BPS mencatat bahwa terdapat 3,29 juta penduduk miskin pada Maret 2026, turun 59.390 orang dari September 2025. Garis kemiskinan mencapai Rp596.676 per kapita per bulan, dengan beras, rokok, telur, daging ayam, dan sejumlah pangan lain menjadi kontributor utama. Tingkat kemiskinan di Jawa Tengah juga menurun menjadi 9,21 persen, dengan persentase penduduk miskin di perkotaan mencapai 8,59 persen dan di perdesaan sebesar 9,96 persen.
Sensus Ekonomi 2026 yang dilaksanakan oleh BPS menjadi bagian dari upaya strategis pemerintah untuk memperbarui data struktur perekonomian nasional. Pendataan ini mencakup kondisi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang akan menjadi dasar utama dalam kajian serta penyusunan kebijakan ekonomi ke depan.
Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, M. Edy Mahmud, menjelaskan bahwa sensus ekonomi merupakan agenda rutin sepuluh tahunan. Pelaksanaan tahun 2026 ini merupakan kelanjutan dari sensus terakhir yang digelar pada 2016 silam. Edy menekankan bahwa data hasil sensus tahun 2016 sudah tidak lagi relevan untuk menggambarkan kondisi perekonomian saat ini.
Dalam satu dekade terakhir, terjadi pergeseran signifikan pada cara masyarakat memproduksi, memasarkan, hingga mendistribusikan barang dan jasa. Pesatnya pertumbuhan perdagangan digital telah melahirkan berbagai model usaha baru, termasuk pelaku UMKM yang menjalankan bisnis dari rumah melalui marketplace dan berbagai platform digital lainnya.
Dengan demikian, Sensus Ekonomi 2026 diharapkan dapat memotret struktur ekonomi secara menyeluruh dan memberikan gambaran yang akurat tentang kondisi perekonomian nasional saat ini. Hal ini akan menjadi dasar penting dalam penyusunan kebijakan ekonomi yang efektif dan tepat sasaran untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
