Rusia Jual Cadangan Emas untuk Atasi Defisit Anggaran, Tether Borong 14 Ton Emas

Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 10 Agustus 2026 | Rusia telah menjual sebagian besar cadangan emasnya sepanjang tahun 2026 sebagai upaya untuk menggalang dana dan menutup defisit anggaran yang besar. Menurut data dari Bank Sentral Rusia, cadangan emas Rusia telah menurun sekitar 43,5 metrik ton sejak awal tahun ini, sehingga mencapai level terendah sejak sebelum invasi skala penuh ke Ukraina dimulai pada Februari 2022.

Harga emas sempat mencapai rekor tertinggi pada awal tahun ini, dengan harga rata-rata sekitar $4.800 per troy ounce dalam empat bulan pertama, sebelum turun kembali ke tingkat saat ini di kisaran $4.000 per troy ounce. Aksi penjualan besar-besaran oleh Rusia diperkirakan telah menghasilkan dana lebih dari $5 miliar.

Baca juga:

Sementara itu, Tether, penerbit stablecoin, terus memperkuat portofolio aset cadangannya dengan menambah kepemilikan emas fisik. Sepanjang kuartal II-2026, perusahaan membeli 14 ton emas, sehingga total cadangan emasnya kini mencapai rekor 146 ton. Dengan tambahan pembelian tersebut, Tether kini menjadi salah satu pemegang emas fisik terbesar di dunia dari kalangan swasta.

Cadangan emas Tether mencapai nilai sekitar $18,8 miliar, atau sekitar Rp 335,88 triliun, berdasarkan harga pasar saat ini. Penambahan cadangan emas ini menjadi bagian dari strategi Tether dalam memperkuat aset cadangan yang menopang operasional bisnis aset digitalnya. Selain kas dan surat utang pemerintah, perusahaan juga terus meningkatkan porsi investasi pada logam mulia sebagai salah satu aset lindung nilai.

Penjualan cadangan emas oleh Rusia dan pembelian oleh Tether menunjukkan dinamika yang kompleks dalam pasar emas global. Sementara Rusia berusaha untuk mengatasi defisit anggaran, Tether berusaha untuk memperkuat portofolio aset cadangannya. Kedua aksi ini memiliki dampak yang signifikan pada harga emas dan stabilitas keuangan global.

Di sisi lain, Jepang juga mengalami tekanan ekonomi dengan cadangan devisa yang menyusut sebesar $0,38 miliar hingga menyentuh level terendah dalam 16 bulan terakhir sebesar $1,287 triliun pada akhir Juli 2026. Pengeluaran rumah tangga Jepang juga anjlok sebesar 3,3 persen secara tahunan pada Juni 2026, menunjukkan pelemahan konsumsi domestik.

Kombinasi penurunan devisa dan konsumsi domestik ini menjadi indikator penting bagi pergerakan ekonomi kawasan Asia, termasuk terhadap dinamika pasar dan mitra dagang utama seperti Indonesia. Oleh karena itu, perlu dilakukan analisis yang lebih mendalam untuk memahami dampak dari penjualan cadangan emas Rusia dan pembelian oleh Tether terhadap stabilitas keuangan global.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *