Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 03 Agustus 2026 | Sedikitnya 72 orang dilaporkan tewas dalam gelombang besar masuknya migran dari Maroko ke wilayah kantong (enklave) Spanyol di Ceuta. Gelombang migrasi yang diperkirakan melibatkan sekitar 60.000 orang itu menjadi arus masuk migran terbesar yang pernah terjadi di Ceuta.
Sebagian besar migran memasuki wilayah Spanyol dengan berenang melintasi perairan perbatasan. Sebagian besar dari mereka telah kembali ke Maroko dalam waktu 48 jam setelah menyeberang. Meski begitu, sejumlah migran, terutama anak-anak, masih berada di Ceuta dengan harapan dapat melanjutkan perjalanan ke daratan utama Spanyol.
Peristiwa tersebut memicu krisis diplomatik sekaligus kembali menyoroti persoalan migrasi di perbatasan Spanyol-Uni Eropa dengan Afrika Utara. Delegasi Pemerintah Spanyol di Ceuta, Miguel Angel Perez Triano, mengatakan jumlah korban jiwa terus bertambah dibandingkan laporan sebelumnya.
Pemerintah Maroko menyatakan bahwa gelombang migrasi tersebut bukan terjadi secara spontan, tetapi dipicu oleh penyebaran informasi menyesatkan di media sosial, aktivitas jaringan penyelundup manusia, serta kesalahpahaman terhadap perkembangan hukum terbaru yang membuat banyak migran percaya mereka dapat memasuki Eropa tanpa menghadapi konsekuensi langsung.
Presiden Kolombia, Gustavo Petro, menuduh Maroko sengaja memicu krisis migrasi di Ceuta atas desain Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu. Menurutnya, krisis tersebut bertujuan merusak pemerintahan sayap kiri Spanyol, serta menuding Israel ingin mengganggu demokrasi progresif Eropa dan telah merampas kemerdekaan Palestina.
Tragedi kemanusiaan ini juga menimpa seorang pesepak bola wanita Maroko, Faten Ben Amar El Azizi, yang meninggal saat berusaha menyeberang ke Spanyol. Ironisnya, visa miliknya disetujui pada hari yang sama.
Krisis Ceuta ini telah menewaskan sedikitnya 72 orang dan melukai lebih dari 1.000 orang. Peristiwa ini telah memicu kepanikan keamanan kawasan dan mendesak 22 negara anggota Uni Eropa untuk mengambil tindakan terpadu.
Dalam menghadapi krisis ini, pemerintah Spanyol dan Maroko perlu bekerja sama untuk menangani migrasi ilegal dan mencegah tragedi serupa terjadi di masa depan. Selain itu, penting untuk meningkatkan kesadaran tentang bahaya migrasi ilegal dan memberikan bantuan kepada mereka yang terkena dampak.
