Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 01 Agustus 2026 | Konflik di Selat Hormuz kembali memanas setelah Iran menyerang dua kapal tanker yang berlayar di jalur perairan strategis tersebut. Menurut Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), kapal-kapal tanker tersebut berusaha melintasi Selat Hormuz dengan pengawalan udara dari militer Amerika Serikat (AS). IRGC mengklaim bahwa kapal-kapal tanker tersebut tidak mematuhi aturan dan berusaha melintasi Selat Hormuz melalui rute yang tidak dideklarasikan.
Selat Hormuz merupakan jalur perairan vital untuk pasokan energi global, dan konflik di wilayah tersebut telah meningkatkan ketegangan antara Iran dan AS. AS menuntut kebebasan navigasi tanpa hambatan di jalur perairan tersebut, sedangkan Iran bersikeras agar kapal-kapal melintasi jalur di dekat garis pantainya di bawah mekanisme navigasi yang mereka kelola.
Iran juga mengancam negara-negara Eropa yang mengizinkan AS menggunakan pangkalan militer mereka. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, memprotes Bulgaria atas izin penggunaan Pangkalan Udara Bezmer oleh militer AS. Iran mendesak Siprus untuk mencegah pangkalan militer asing digunakan untuk operasi yang menargetkan Teheran.
Sementara itu, Arab Saudi menggalang koalisi internasional untuk melindungi pelayaran di Laut Merah setelah blokade dan serangan Houthi mengganggu pengiriman minyak. Riyadh mengundang sekitar 50 negara, termasuk AS dan sejumlah negara Teluk serta Eropa, untuk bergabung dalam koalisi tersebut.
Konflik di Selat Hormuz dan Laut Merah telah meningkatkan risiko bagi tanker minyak dan mendorong kenaikan harga minyak dunia. Situasi tersebut juga memperluas ancaman terhadap kapal tanker pengangkut energi di luar kawasan Teluk.
Dalam meningkatkan ketegangan di kawasan, Iran melancarkan serangan drone yang menargetkan fasilitas militer AS di Kuwait. Militer Iran mengumumkan telah melancarkan serangan drone yang menargetkan tempat perlindungan pesawat tempur, sistem komunikasi satelit, dan fasilitas penyimpanan peralatan di Pangkalan Udara Ahmad al-Jaber di Kuwait.
Di lain pihak, kapal cepat KM Express Bahari 3F mengalami kerusakan akibat tersenggol kapal tanker MT Ferimas Sentosa di Pelabuhan Umum Bawean. Akibat insiden tersebut, operasional penyeberangan sementara hanya mengandalkan KM Express Bahari 6F yang memiliki kapasitas lebih kecil.
Kesimpulan dari konflik di Selat Hormuz dan Laut Merah adalah bahwa situasi tersebut telah meningkatkan ketegangan antara Iran dan AS, serta memperluas ancaman terhadap kapal tanker pengangkut energi di luar kawasan Teluk. Arab Saudi menggalang koalisi internasional untuk melindungi pelayaran di Laut Merah, sementara Iran melancarkan serangan drone yang menargetkan fasilitas militer AS di Kuwait.
