Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 15 April 2026 | JAKARTA – Kepala Badan Energi Atom Internasional (IAEA), Rafael Grossi, menegaskan pada konferensi pers di Seoul bahwa kemampuan Korea Utara (DPRK) dalam memproduksi senjata nuklir mengalami peningkatan yang sangat serius.
Menurut penilaian berkala IAEA, operasi reaktor air ringan di kompleks nuklir Yongbyon telah meningkat secara pesat sejak diaktifkan kembali pada tahun 2021. Grossi menambahkan bahwa unit pengolahan ulang uranium di situs yang sama juga menunjukkan aktivitas yang lebih intens, menandakan bahwa Pyongyang kembali menfokuskan upaya pada tahap pengayaan—langkah kunci dalam pembuatan hulu ledak nuklir.
Data intelijen Korea Selatan memperkuat temuan IAEA, dengan laporan bahwa DPRK mengoperasikan beberapa fasilitas pengayaan uranium secara simultan. Para pengamat memperkirakan bahwa peningkatan tersebut dapat menghasilkan “beberapa lusin” hulu ledak, sebuah angka yang jauh melampaui perkiraan sebelumnya.
- Reaktor Yongbyon kembali beroperasi penuh sejak 2021.
- Unit pengolahan ulang uranium menunjukkan lonjakan produksi bahan baku nuklir.
- IAEA memperkirakan kapasitas produksi mencapai puluhan hulu ledak.
- Korea Utara meluncurkan uji coba rudal jelajah strategis dan rudal anti‑kapal dari kapal perang berdispal 5.000 ton.
- Spekulasi tentang bantuan teknologi militer Rusia masih belum dibuktikan secara konklusif.
Dalam rangka menegaskan kemampuan militernya, DPRK menggelar latihan militer pada minggu pertama April 2026. Dua rudal jelajah strategis diluncurkan dari kapal perusak Choe Hyon, masing‑masing mampu terbang lebih dari dua jam, sementara rudal anti‑kapal menempuh jarak selama 33 menit. Semua peluncuran dilakukan di atas Laut Barat Korea, istilah Pyongyang untuk Laut Kuning, dan dilaporkan mencapai sasaran dengan akurasi “ultra‑presisi”.
Latihan tersebut diawasi langsung oleh Pemimpin DPRK, Kim Jong Un, yang menegaskan tidak akan pernah menyerahkan senjata nuklirnya. Sementara itu, hubungan antara Korea Utara dan Rusia menjadi sorotan tambahan. Beijing melaporkan bahwa Pyongyang mengirim pasukan darat serta artileri untuk mendukung invasi Rusia di Ukraina, dan para analis menilai bantuan teknologi militer mungkin menjadi imbalannya. Namun, Grossi menegaskan bahwa IAEA belum menemukan bukti konkret yang mengaitkan Rusia dengan program nuklir DPRK.
Korea Utara telah berada di bawah sanksi PBB sejak melakukan uji coba nuklir pertamanya pada tahun 2006. Pemerintah Pyongyang menolak semua upaya inspeksi IAEA sejak 2009, sehingga verifikasi lapangan menjadi sangat terbatas. Meski begitu, melalui citra satelit dan pemantauan eksternal, IAEA mengidentifikasi pembangunan fasilitas baru yang menyerupai instalasi pengayaan uranium di sekitar Yongbyon.
Para pakar keamanan menilai bahwa peningkatan produksi nuklir DPRK meningkatkan ketegangan regional, khususnya di Semenanjung Korea, serta menambah beban diplomatik bagi negara‑negara yang berupaya menegakkan rezim sanksi. Mereka menekankan pentingnya koordinasi internasional yang lebih kuat, termasuk tindakan ekonomi yang terarah dan dialog multilateral, untuk menahan laju proliferasi.
Secara keseluruhan, laporan IAEA menegaskan bahwa Korea Utara berada pada jalur percepatan produksi senjata nuklir, dengan fasilitas Yongbyon sebagai pusat utama. Sementara bukti langsung bantuan Rusia masih belum terkonfirmasi, keterkaitan militer antara kedua negara menambah kompleksitas dinamika geopolitik yang sedang berlangsung.
Komunitas internasional diharapkan dapat merespons dengan kebijakan yang tegas namun konstruktif, mengingat risiko meluasnya proliferasi senjata nuklir dan implikasinya terhadap keamanan global.
