Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 03 Juli 2026 | Beberapa hari terakhir, media sosial X (sebelumnya dikenal sebagai Twitter) dihebohkan dengan berbagai topik hangat, mulai dari aksi prank yang menargetkan pengemudi e-rickshaw di India hingga konflik politik di New York City.
Di India, sebuah aplikasi China bernama BAT-BMS digunakan oleh beberapa orang untuk mematikan e-rickshaw secara remote, menyebabkan pengemudi terjebak di tengah jalan. Aksi ini dilakukan sebagai bentuk ‘balas dendam’ terhadap pengemudi yang melanggar aturan lalu lintas.
Sementara itu, di New York City, pendiri Barstool Sports, Dave Portnoy, menuai kontroversi setelah mengkritik Wali Kota Zohran Mamdani atas keputusannya untuk meminta warga membatasi penggunaan listrik guna menyelamatkan jaringan listrik kota. Portnoy membandingkan keputusan itu dengan ‘komunisme’ dan mengancam akan mencalonkan diri melawan Mamdani.
Di lain pihak, Vatikan juga mengumumkan bahwa Society of St. Pius X telah secara resmi memutuskan hubungan dengan Gereja Katolik, menyebabkan para uskup dan imamnya dikeluarkan dari Gereja. Keputusan ini diambil setelah Society of St. Pius X melangsungkan upacara penahbisan uskup tanpa izin dari Paus.
Selain itu, Manish Tewari, seorang pemimpin Kongres India, juga menuai perhatian setelah memposting pesan kriptis di X tentang ‘ketidakamanan individu dan lembaga’. Tewari dilaporkan merasa diabaikan dalam reshuffle pimpinan Kongres di Punjab.
Dalam beberapa hari terakhir, X telah menjadi saksi bisu atas berbagai peristiwa yang menarik perhatian masyarakat luas, mulai dari aksi prank yang menyebabkan kerugian hingga konflik politik yang memecah belah masyarakat.
Kesimpulan dari berbagai peristiwa ini menunjukkan bahwa media sosial seperti X dapat menjadi sarana yang efektif untuk menyebarkan informasi dan memicu diskusi, namun juga dapat digunakan untuk menyebarkan kebencian dan memecah belah masyarakat. Oleh karena itu, penggunaan media sosial harus dilakukan dengan bijak dan bertanggung jawab.
