Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 23 Juni 2026 | Piala Dunia 2026 menjadi turnamen terbesar sepanjang sejarah dengan kehadiran 48 negara peserta. Ajang yang digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko ini juga menandai lahirnya sebuah regulasi baru yang memicu perdebatan luas, yakni ‘Prestianni Law’. Aturan tersebut menjadi salah satu perubahan penting yang diterapkan FIFA bersama International Football Association Board (IFAB) untuk menciptakan pertandingan yang lebih sportif dan transparan.
Salah satu poin utamanya adalah larangan bagi pemain menutupi mulut ketika berbicara kepada lawan, wasit, maupun ofisial pertandingan. Penerapan aturan ini langsung menyita perhatian dunia. Gelandang Paraguay, Miguel Almiron, tercatat sebagai pemain pertama yang menerima kartu merah akibat melanggar ‘Prestianni Law’ saat Paraguay menghadapi Turki pada pertandingan fase grup Piala Dunia 2026.
Kasus tersebut memunculkan pertanyaan besar: mengapa FIFA sampai merasa perlu mengatur cara pemain berbicara di lapangan? Nama ‘Prestianni Law’ diambil dari pemain muda Argentina, Gianluca Prestianni. Pemain yang berkarier di Benfica itu menjadi sorotan setelah terlibat insiden kontroversial pada pertandingan Liga Champions Eropa musim 2025/2026.
Dalam pertandingan antara Benfica melawan Real Madrid, Prestianni terlihat menutupi mulutnya saat berbicara kepada Vinicius Junior. Gerakan itu memicu kontroversi karena Vinicius mengaku menerima ucapan yang mengandung unsur rasisme. Meski Prestianni membantah tuduhan tersebut, UEFA tetap menjatuhkan sanksi larangan bermain setelah melakukan penyelidikan.
Kasus ini kemudian menjadi bahan evaluasi FIFA mengenai sulitnya membuktikan ucapan seorang pemain ketika komunikasi dilakukan dengan cara menutupi mulut. FIFA berpendapat bahwa gestur tersebut dapat menghambat proses investigasi apabila terjadi dugaan penghinaan, rasisme, ataupun ujaran diskriminatif selama pertandingan.
Dari situlah lahir gagasan untuk menciptakan regulasi baru yang kemudian dikenal sebagai ‘Prestianni Law’. Aturan ini bertujuan untuk meningkatkan transparansi dan sportivitas dalam pertandingan sepak bola, terutama dalam menghadapi kasus-kasus yang melibatkan ucapan yang mengandung unsur rasisme atau diskriminatif.
Di sisi lain, pertandingan antara Paraguay dan Australia di Piala Dunia 2026 juga menjadi perhatian. Kedua tim ini memiliki peluang yang sama untuk melaju ke babak selanjutnya, dan pertandingan ini dianggap sebagai ‘pertandingan hidup atau mati’ bagi kedua tim. Paraguay telah menunjukkan kemampuan yang baik dalam pertandingan sebelumnya, tetapi Australia juga tidak bisa dianggap remeh.
Pertandingan ini akan menjadi sangat menarik, terutama karena kedua tim memiliki gaya permainan yang berbeda. Paraguay dikenal dengan kemampuan defensif yang kuat, sementara Australia memiliki serangan yang sangat kuat. Pertandingan ini akan menjadi ujian bagi kedua tim, dan hanya tim yang lebih kuat yang akan melaju ke babak selanjutnya.
Kesimpulan, Piala Dunia 2026 menjadi ajang yang sangat menarik, tidak hanya karena kehadiran 48 negara peserta, tetapi juga karena lahirnya regulasi baru yang memicu perdebatan luas. ‘Prestianni Law’ menjadi salah satu contoh regulasi yang bertujuan untuk meningkatkan transparansi dan sportivitas dalam pertandingan sepak bola. Sementara itu, pertandingan antara Paraguay dan Australia menjadi perhatian karena kedua tim memiliki peluang yang sama untuk melaju ke babak selanjutnya.
