Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 14 Juni 2026 | Pertanyaan tentang harga BBM di Indonesia memang sangat penting, terutama ketika harga minyak dunia mengalami kenaikan. Pemerintah Indonesia telah mengeluarkan pernyataan terkait harga BBM nonsubsidi seperti Pertamax. Menurut Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya, Pertamax adalah BBM nonsubsidi yang artinya harganya harus mengikuti pergerakan harga minyak dunia.
Sejak harga minyak dunia naik, pemerintah telah menahan kenaikan harga BBM bersubsidi, seperti Pertalite dan Solar. Harga Pertalite tetap Rp 10.000 per liter, sedangkan Solar tetap Rp 6.800 per liter. Sementara itu, harga BBM nonsubsidi seperti Pertamax baru naik per 10 Juni 2026 dari Rp 12.300 per liter menjadi Rp 16.250 per liter.
Menariknya, meskipun harga Pertamax di Indonesia mengalami kenaikan, harganya masih lebih murah dibandingkan dengan BBM RON 92/95 di beberapa negara Asia Tenggara. Misalnya, Filipina dengan harga Rp 22.158 per liter, Laos Rp 31.945 per liter, Thailand Rp 28.910 per liter, Myanmar Rp 25.085 per liter, dan Singapura Rp 42.971 per liter.
Pemerintah juga menegaskan bahwa kenaikan harga BBM nonsubsidi mengikuti harga dunia. Sejauh ini, pemerintah mengklaim telah menahan kenaikan saat negara lain mengerek harga BBM. Dalam unggahan resminya, Sekretariat Kabinet memaparkan harga BBM RON 92/95 di beberapa negara Asia Tenggara untuk memperjelas perbandingan harga.
Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Indonesia membawa lima tuntutan dalam unjuk rasa, salah satunya menurunkan harga BBM. Namun, perlu diingat bahwa harga BBM yang naik hanya BBM nonsubsidi, sementara harga BBM bersubsidi masih tetap.
Pemerintah berharap masyarakat dapat memahami situasi harga BBM di Indonesia dan perbandingannya dengan negara-negara lain. Dengan demikian, diharapkan masyarakat dapat lebih bijak dalam menggunakan BBM dan menghemat penggunaan energi.
Dalam beberapa hari terakhir, masyarakat telah banyak membicarakan tentang kenaikan harga BBM nonsubsidi. Namun, perlu diingat bahwa harga BBM bersubsidi masih tetap, sehingga masyarakat tidak perlu khawatir tentang kenaikan harga BBM.
Pemerintah telah melakukan upaya untuk mengurangi dampak kenaikan harga BBM nonsubsidi. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan menahan kenaikan harga BBM bersubsidi. Dengan demikian, masyarakat yang menggunakan BBM bersubsidi tidak perlu khawatir tentang kenaikan harga.
Di samping itu, pemerintah juga telah melakukan upaya untuk meningkatkan efisiensi penggunaan energi. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan mengembangkan penggunaan energi terbarukan. Dengan demikian, diharapkan masyarakat dapat lebih bijak dalam menggunakan energi dan mengurangi dampak kenaikan harga BBM.
Untuk itu, masyarakat perlu memahami situasi harga BBM di Indonesia dan perbandingannya dengan negara-negara lain. Dengan demikian, diharapkan masyarakat dapat lebih bijak dalam menggunakan BBM dan menghemat penggunaan energi.
Sebagai kesimpulan, kenaikan harga BBM nonsubsidi di Indonesia memang telah terjadi. Namun, perlu diingat bahwa harga BBM bersubsidi masih tetap, sehingga masyarakat tidak perlu khawatir tentang kenaikan harga BBM. Pemerintah telah melakukan upaya untuk mengurangi dampak kenaikan harga BBM nonsubsidi dan meningkatkan efisiensi penggunaan energi. Oleh karena itu, masyarakat perlu memahami situasi harga BBM di Indonesia dan perbandingannya dengan negara-negara lain untuk dapat lebih bijak dalam menggunakan BBM dan menghemat penggunaan energi.
