Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 10 Juni 2026 | Indonesia telah lama dikenal sebagai negara dengan sektor perkebunan yang kuat, namun beberapa konglomerat tanah air telah memperluas sayapnya ke sektor lain seperti energi. Salah satu contoh adalah PT Raharja Energi Cepu (RATU), yang membuka peluang ekspansi ke luar negeri melalui akuisisi aset minyak dan gas bumi (migas) yang telah berproduksi.
RATU saat ini tengah membidik sejumlah aset ladang minyak di berbagai negara, mulai dari Malaysia, Thailand, Australia, Turki, Irak, hingga Amerika Serikat (AS). Chief Financial Officer (CFO) RATU, Adrian Hartadi, mengatakan bahwa strategi akuisisi tetap menjadi fokus utama perusahaan untuk mendorong pertumbuhan anorganik.
Sementara itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga mengalami peningkatan sepanjang perdagangan sesi I hari ini, Selasa (9/6/2026). Pergerakan indeks saham di paruh pertama hari ini turut didorong oleh menguatnya saham-saham blue chip seperti perbankan dan konglomerat. IHSG menguat 4,82% ke level 5.599,74 hingga penutupan perdagangan sesi I.
Di sisi lain, mantan Menteri Agraria dan Tata Ruang (ATR)/Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN), Sofyan A Djalil, menilai pelaksanaan redistribusi lahan bekas perkebunan dalam reforma agraria selama ini belum berjalan efektif karena lemahnya pengawasan negara di lapangan. Menurut Sofyan, ketimpangan penguasaan lahan masih terjadi, terutama pada lahan bekas hak guna usaha (HGU) dan perkebunan yang tidak dikelola secara teratur setelah haknya berakhir.
Reforma agraria yang tidak dikontrol dengan baik berpotensi membuat penguasaan tanah semakin terkonsentrasi pada kelompok tertentu. Oleh karena itu, Sofyan menekankan pentingnya pengawasan yang efektif dalam pelaksanaan redistribusi lahan bekas perkebunan.
Dalam beberapa tahun terakhir, beberapa konglomerat Indonesia telah memperluas bisnisnya ke sektor energi, termasuk PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG), yang merupakan emiten CPO milik konglomerat TP Rachmat. DSNG telah memutuskan membagikan dividen senilai Rp498 miliar untuk tahun buku 2025, yang menunjukkan kemajuan perusahaan dalam sektor perkebunan.
Dalam kesimpulan, konglomerat Indonesia terus berkembang dan memperluas sayapnya ke sektor lain, termasuk energi. Namun, pelaksanaan redistribusi lahan bekas perkebunan dalam reforma agraria masih memerlukan pengawasan yang efektif untuk mencegah ketimpangan penguasaan lahan.
