Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 13 April 2026 | Pada 28 Februari 2026, serangkaian serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel menargetkan wilayah Iran, memicu gelombang respons media yang belum pernah terjadi sebelumnya. Di tengah konflik yang kian intens, sebuah fenomena visual muncul di platform sosial: video berformat Lego yang dihasilkan oleh kecerdasan buatan, menampilkan tokoh-tokoh internasional dalam skenario yang menegangkan namun sarat satir.
Video pertama menampilkan mantan Presiden Amerika Donald Trump terperosok ke dalam pusaran dokumen yang dikenal sebagai “berkas Epstein”, sementara adegan lain menampilkan sosok George Floyd terjepit di bawah sepatu bot seorang polisi, disertai narasi yang menyatakan, “Iran berdiri di sini untuk semua orang yang pernah dirugikan oleh sistem Anda.” Gaya visual menyerupai potongan film Lego, namun dipercepat sehingga menciptakan efek dramatis yang menarik jutaan penonton dalam hitungan hari.
Menurut laporan dari Kompas, klip-klip propaganda tersebut diproduksi oleh Explosive Media, sebuah perusahaan produksi media yang secara resmi mengklaim independensi. Namun, perwakilan yang dikenal sebagai Mr Explosive mengakui bahwa klien utama mereka adalah pemerintah Iran. Ia menjelaskan bahwa timnya terdiri dari kurang dari sepuluh orang, dan bahwa pilihan gaya grafis Lego dipilih karena “bahasa dunia” yang dapat dimengerti tanpa terhalang bahasa atau budaya.
Distribusi video dilakukan secara terkoordinasi melalui akun-akun resmi militer Iran dan Rusia di jaringan X (dulu Twitter). Setiap postingan disertai dengan tag berwarna merah dan hijau, melambangkan bendera Iran, serta simbol helm berbulu hijau yang merujuk pada Husein ibn Ali, figur penting dalam tradisi Syiah. Dalam hitungan minggu, video‑video tersebut dilaporkan ditonton ratusan juta kali, menjadikannya salah satu alat propaganda digital paling efektif dalam konflik modern.
Transformasi pesan propaganda tradisional—yang dulu berfokus pada narasi martyrdom dan heroisme—menjadi meme visual menandai pergeseran signifikan. Di era digital, penyebaran cepat, kemampuan rekayasa AI, dan daya tarik visual yang ringan namun provokatif memungkinkan pesan politik menembus demografis muda yang biasanya tidak terjangkau oleh media konvensional.
Selain video Lego, Iran juga berusaha mengukir citra militer melalui klip yang menampilkan penangkapan pilot jet tempur F‑15E Amerika yang diklaim jatuh. Sementara militer Iran memperlihatkan gambar pilot yang ditangkap, pihak berwenang Amerika mengonfirmasi bahwa pilot tersebut berhasil diselamatkan oleh pasukan khusus pada 4 April 2026. Ketidaksesuaian ini menambah lapisan kebingungan, memperkuat narasi Iran sebagai perlawanan terhadap penindas global, sekaligus memicu pertanyaan tentang verifikasi fakta dalam perang informasi.
Para pakar media digital menilai bahwa penggunaan estetika Lego tidak sekadar strategi estetika, melainkan taktik psikologis. Gambar yang tampak bersahabat menurunkan waspada penonton, sementara pesan anti‑AS dan anti‑Israel tersisip di balik lapisan humor dan nostalgia anak‑anak. Ini memperluas jangkauan propaganda ke kalangan netizen yang biasanya menghindari konten politik berat.
- Penggunaan AI untuk menghasilkan konten visual dalam hitungan menit.
- Distribusi melalui jaringan sosial X dengan dukungan akun negara.
- Penggabungan elemen budaya populer (Lego, meme) dengan narasi politik.
- Strategi mengaburkan fakta melalui visual yang mudah dicerna.
Secara keseluruhan, evolusi propaganda Iran dari narasi martyr tradisional menuju meme digital menandai era baru dalam perang informasi. Kecepatan produksi, jangkauan global, dan daya tarik visual yang memikat menjadikan video‑video AI berformat Lego sebagai senjata lunak yang efektif dalam mempengaruhi opini publik internasional. Dalam konteks konflik yang semakin dipengaruhi teknologi, kemampuan mengendalikan narasi visual menjadi faktor krusial bagi negara‑negara yang terlibat.
Ke depan, pengawasan terhadap konten AI dan verifikasi fakta akan menjadi tantangan utama bagi platform digital dan lembaga berita. Tanpa mekanisme yang kuat, propaganda berbasis meme berpotensi mengaburkan realitas konflik, memicu polarisasi, dan memperpanjang siklus kebencian antarnegara.
