Pak Tarno: Dari Bintang Sulap ke Penjual Mainan di Pinggir Jalan Warakas, Jakarta Utara

Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 12 April 2026 | Seorang mantan pesulap yang pernah mengisi layar televisi dengan slogan “prok prok prok” kini menjadi sosok yang lebih dikenal karena dagangannya di pinggir jalan Warakas, Jakarta Utara. Pak Tarno, yang dulu dipuji oleh Deddy Corbuzier sebagai “Master” dalam dunia sulap, kini menghabiskan hari‑harinya menata balon, gasing, dan mainan plastik sederhana di depan rumah sederhana bersama istrinya, Lisa Karlina.

Penemuan reporter pada Jumat, 10 April 2026, memperlihatkan Pak Tarno duduk di kursi roda yang telah menjadi andalannya sejak mengalami empat kali serangan stroke. Kondisi kesehatan yang menurun mengurangi kemampuan berbicaranya dan membatasi mobilitasnya. Dalam beberapa kesempatan, ia memilih menggunakan tongkat karena merasa malu terlihat dengan kursi roda di depan pembeli.

Baca juga:

Meski terbatas, semangat mandiri Pak Tarto tidak pernah padam. Bersama istrinya, ia menjual mainan anak‑anak di sekitar rumah, tepatnya di depan Sekolah Dasar Negeri Warakas 03 dan hingga kawasan Kebon Bawang. Penghasilan harian tidak menentu; ada hari ia hanya memperoleh sekitar dua ribu rupiah, sementara pada hari lain dapat mengumpulkan dua puluh ribu rupiah. Uang yang didapatkan cukup untuk membeli beras dua kilogram dan menutupi tagihan listrik. “Yang penting buat makan, perut mah gak bisa bohong,” ujar Pak Tarno dengan nada tawadhu.

Di luar tantangan ekonomi, keluarga Pak Tarno juga harus bergulat dengan masalah hukum. Istrinya mengungkapkan bahwa mantan sopir dan mantan manajer secara sepihak menggadaikan dua mobil keluarga tanpa sepengetahuan mereka. Tagihan leasing terus mengalir, dan telepon penagihan tak henti‑hentinya menanyakan pembayaran yang belum pernah disetujui. Hingga kini, uang ganti rugi belum diterima dan keberadaan mobil masih misterius.

Meskipun berada dalam fase hidup yang sulit, Pak Tarno tidak melupakan panggilan hatinya sebagai pesulap. Setiap akhir pekan, ia mengubah ruang tamu kecil menjadi arena sulap dadakan di kawasan Kota Tua. Penampilannya masih menyisakan senyum khas, meski gerakannya lebih lambat. “Sulap adalah martabat,” katanya sambil menyiapkan topi dan tongkat sulap, “Saya tidak ingin menjadi orang yang hanya mengemis, melainkan tetap memberi hiburan, sekecil apa pun itu.”

Video yang menampilkan Pak Tarno mengatur mainan sambil menggerakkan kursi roda menjadi viral di media sosial, memicu simpati luas dari netizen. Banyak komentar menyoroti betapa beratnya perjuangan seniman senior yang dulu bersinar di panggung kini harus berjuang di pinggir jalan. Netizen juga menekankan pentingnya dukungan sosial dan kebijakan pemerintah untuk membantu para seniman lansia yang berada dalam kondisi serupa.

Peran Lisa Karlina sebagai pilar utama tak dapat diabaikan. Ia membantu mengemas dagangan ke dalam kardus bekas, mengurus keuangan rumah, dan memastikan suaminya tetap mendapat dukungan moral. “Saya masih kerja, apa saja yang penting untuk makan,” ujarnya, menegaskan peran ganda yang ia jalani sebagai istri, pekerja, dan pengasuh.

Kisah Pak Tarno mencerminkan realitas banyak seniman senior di Indonesia. Ketika popularitas meredup, mereka sering terpaksa mencari cara baru untuk bertahan hidup, baik melalui penjualan kecil‑kecilan maupun pekerjaan paruh waktu. Situasi ini menimbulkan pertanyaan tentang perlindungan sosial bagi pekerja kreatif yang tidak memiliki jaminan pensiun atau asuransi kesehatan yang memadai.

Secara keseluruhan, perjalanan Pak Tarno dari panggung megah ke pinggir jalan Warakas menampilkan ketangguhan pribadi serta tantangan struktural yang dihadapi para seniman senior. Diharapkan perhatian publik dapat mendorong kebijakan yang lebih inklusif, sekaligus menginspirasi masyarakat untuk lebih menghargai kontribusi mereka yang telah lama mengisi hiburan bangsa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *