Krisis Rupiah: Apa yang Terjadi Jika Rupiah Tembus Rp 25.000 Per Dolar AS?

Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 21 Mei 2026 | Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus mengalami tren penurunan. Pada Selasa (19/5/2026) pukul 09.56 WIB, Rupiah berada di level Rp 17.717 per dolar AS, melemah 49 poin atau 0,28 persen dibanding penutupan sebelumnya Rp 17.668 per dolar AS.

Tren penurunan Rupiah terjadi sejak awal kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto. Warganet khawatir, penurunan nilai tukar Rupiah semakin buruk dan mencapai Rp 25.000 pada periode Juli-Agustus 2026.

Baca juga:

Kondisi itu disebabkan oleh perang yang masih terjadi di Timur Tengah dan kebijakan dalam negeri yang dinilai menyebabkan defisit fiskal membengkak. Lantas, apa yang terjadi jika Rupiah mencapai Rp 25.000 per dolar AS?

Pengamat ekonomi Universitas Pasundan Bandung, Acuviarta Kartabi, mengaku bahwa dirinya tidak bisa membayangkan jika nilai tukar Rupiah mencapai Rp 25.000 per dolar AS. Dia sangat berharap, kondisi itu tidak terjadi.

"Saya enggak bisa membayangkan kalau Rupiah sampai ke Rp 25.000," ucapnya, saat dihubungi Kompas.com, Rabu (20/5/2026).

Jika Rupiah tembus Rp 25.000 per dolar AS, maka ekonomi Indonesia akan mengalami skenario paling buruk. Indonesia dipastikan memasuki tahapan yang sangat berat.

"Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) negara bisa jebol. Kemudian harga-harga bahan pokok juga meningkat. Inflasi kita sangat luar biasa kenaikannya," terang Acuviarta.

"Bisa kita artikan krisis sudah masuk," imbuhnya.

Kendati demikian, Acuviarta optimis kondisi tersebut tidak akan terjadi di Indonesia. Hal ini dilihat dari kebijakan pemerintah untuk mempertahankan APBN dengan tidak menaikkan BBM bersubsidi.

Di sisi lain, nilai tukar rupiah ditutup menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan hari Rabu (20/5/2026) merespons langkah pemerintah memangkas anggaran serta keputusan agresif Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan.

Berdasarkan data TradingView, rupiah ditutup menguat sebesar 0,48% ke level Rp17.629. Penguatan mata uang Garuda terhadap dolar AS sejalan dengan apresiasi terhadap mayoritas mata uang Asia lainnya.

Yuan China mengalami penguatan terhadap dolar AS sebesar 0,13%, diikuti won Korea juga menguat sebesar 0,06%, dolar Taiwan naik 0,11%. Ringgit Malaysia turut mengalami apresiasi terhadap dolar AS sebesar 0,18%.

Sebaliknya baht Thailand terhadap dolar AS turun 0,06, peso Filipina melemah 0,03%, rupee India turun sebesar 0,34%. Yen Jepang, dolar Singapura, serta dolar Hong Kong terhadap dolar AS terpantau stabil.

Analis Doo Financial Futures Lukman Leong Nilai mengatakan nilai tukar rupiah berhasil ditutup menguat di tengah berlanjutnya penguatan indeks dolar Amerika Serikat (AS).

Penguatan mata uang Garuda didorong oleh sentimen positif domestik, terutama langkah pemerintah memangkas anggaran serta keputusan agresif Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan.

Pelaku pasar menilai kebijakan pemerintah melakukan efisiensi anggaran, termasuk pemangkasan pada program Makan Bergizi Gratis atau MBG, menjadi sinyal positif bagi pengelolaan fiskal nasional.

Di sisi lain, keputusan Bank Indonesia menaikkan suku bunga sebesar 50 basis poin (bps) juga dinilai mampu meningkatkan daya tarik aset keuangan domestik di tengah tekanan global.

Meski indeks dolar AS masih melanjutkan penguatan, rupiah mampu bergerak stabil berkat kombinasi kebijakan fiskal dan moneter yang dianggap pro stabilitas pasar.

"Perkembangan domestik idealnya masih bisa mendukung penguatan rupiah tetapi perkembangan eksternal juga masih akan menjadi perhatian,” ujarnya, Rabu (20/5/2026).

Fokus investor saat ini tertuju pada perkembangan geopolitik, khususnya pernyataan Presiden AS Donald Trump terkait Iran, yang berpotensi memengaruhi sentimen risiko global.

Selain itu, pasar juga menunggu risalah pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) yang dijadwalkan dirilis malam ini untuk mencari petunjuk arah kebijakan suku bunga bank sentral AS ke depan.

“Untuk perdagangan selanjutnya, rupiah diperkirakan bergerak dalam rentang Rp17.550 hingga Rp17.700 per dolar AS,” lanjutnya.

Nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Rabu, (20/5/2026). Rupiah dibuka turun 37 poin atau 0,21% menjadi 17.743 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level 17.706 per dolar AS.

Namun, rupiah berbalik arah menguat. Mengutip data RTI, pada Rabu, 20 Mei 2026 pukul 10.33 WIB, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menguat ke 17.705.

Rupiah berhasil ditutup menguat di tengah berlanjutnya penguatan indeks dolar Amerika Serikat (AS). Penguatan mata uang Garuda didorong oleh sentimen positif domestik, terutama langkah pemerintah memangkas anggaran serta keputusan agresif Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan.

Pelaku pasar menilai kebijakan pemerintah melakukan efisiensi anggaran, termasuk pemangkasan pada program Makan Bergizi Gratis atau MBG, menjadi sinyal positif bagi pengelolaan fiskal nasional.

Di sisi lain, keputusan Bank Indonesia menaikkan suku bunga sebesar 50 basis poin (bps) juga dinilai mampu meningkatkan daya tarik aset keuangan domestik di tengah tekanan global.

Meski indeks dolar AS masih melanjutkan penguatan, rupiah mampu bergerak stabil berkat kombinasi kebijakan fiskal dan moneter yang dianggap pro stabilitas pasar.

Perkembangan domestik idealnya masih bisa mendukung penguatan rupiah tetapi perkembangan eksternal juga masih akan menjadi perhatian.

Fokus investor saat ini tertuju pada perkembangan geopolitik, khususnya pernyataan Presiden AS Donald Trump terkait Iran, yang berpotensi memengaruhi sentimen risiko global.

Selain itu, pasar juga menunggu risalah pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) yang dijadwalkan dirilis malam ini untuk mencari petunjuk arah kebijakan suku bunga bank sentral AS ke depan.

Untuk perdagangan selanjutnya, rupiah diperkirakan bergerak dalam rentang Rp17.550 hingga Rp17.700 per dolar AS.

Krisis rupiah dapat memengaruhi perekonomian Indonesia, terutama jika nilai tukar rupiah mencapai Rp 25.000 per dolar AS. Namun, pemerintah dan Bank Indonesia berupaya untuk mempertahankan kestabilan ekonomi dengan kebijakan fiskal dan moneter yang tepat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *