Nilai Tukar Rupiah Melemah, Pengamat: Dampaknya Tidak Hanya pada Ekonomi

Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 19 Mei 2026 | Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terus melemah dalam beberapa hari terakhir. Per Senin, 18 Mei 2026, nilai satu dolar menembus Rp 17.656. Dalam hitungan kebalikannya, satu rupiah sama dengan 0,00005664 dolar AS. Angka ini masih jadi yang terendah sepanjang sejarah Tanah Air.

Presiden Prabowo Subianto menyatakan nilai tukar rupiah tidak berdampak signifikan ke masyarakat saat berpidato dalam peresmian Museum Ibu Marsinah dan Rumah Singgah di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, Sabtu, 16 Mei 2026. "Rakyat di desa enggak pakai dolar kok," ujar Prabowo.

Baca juga:

Namun, pernyataan ini sontak menimbulkan kritikan pedas oleh banyak pihak yang menyuarakannya via media sosial. Benarkah bahwa nilai tukar rupiah ke dolar tidak ada kaitannya dengan kondisi perekonomian masyarakat?

Dosen Sosiologi Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Syaifudin M.Kesos memberikan penjelasan dinamika yang terjadi dalam kehidupan masyarakat. Syaifudin berujar meski rakyat Indonesia tidak memakai dolar sebagai mata uang utama, bukan berarti tidak ada dampak dari nilai tukar yang bergejolak.

"Terkait dengan dolar ini kan sebenarnya memang secara tidak langsung masyarakat tidak memiliki dolar ya. Tetapi kan efek terkait dengan naiknya dolar ini mempengaruhi juga tingkat kesejahteraan dari masyarakat," kata Syaifudin.

Syaifudin menjelaskan bagaimana nilai tukar mata uang asing dapat memengaruhi kesejahteraan sosial. "Berkaitan dengan barang-barang, terus kebutuhan sembako dari masyarakat, yang di mana di dalam dunia perdagangan ini kan nilai tukarnya ditentukan berdasarkan dolar tersebut. Sehingga kalau misalnya dolar naik harganya, tentu ini akan berimbas terhadap naiknya kebutuhan-kebutuhan barang maupun sembako itu," ujar Syaifudin.

"Yang tentu saja berefek terhadap daya konsumsi dari masyarakat atau daya beli masyarakat," lanjut dia. Ketika nilai dolar naik diikuti harga barang-barang kebutuhan harian naik, kata Syaifudin, hal ini tidak berimplikasi lurus terhadap naiknya pendapatan dari masyarakat. Kalaupun naik pendapatan atau gaji mungkin tidak sama besarannya dengan naiknya harga kebutuhan primer, sekunder, ataupun tersier.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo meyakini nilai tukar rupiah terhadap dolar AS akan kembali menguat mulai Juli hingga September 2026. Perry mengatakan pelemahan rupiah pada April hingga Juni merupakan pola musiman akibat tingginya permintaan dolar AS.

Nilai tukar rupiah berada di level Rp17.668 per dolar AS pada perdagangan Senin, 18 Mei 2026, sore. Mata uang Garuda melemah 71 poin atau 0,40 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya. Pergerakan rupiah sejalan dengan mayoritas mata uang di kawasan Asia yang bergerak bervariasi terhadap dolar AS.

Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas, Ibrahim Assuaibi memproyeksikan rupiah masih akan bergerak melemah pada perdagangan hari ini Senin, 18 Mei 2026. Nilai tukar rupiah diperkirakan kembali tertekan pada perdagangan awal pekan. Di tengah tekanan global, rupiah diprediksi bergerak melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di kisaran Rp 17.590 hingga Rp 17.660 per dolar AS pada Senin, 18 Mei 2026.

Kesimpulan dari fenomena ini adalah bahwa nilai tukar rupiah terhadap dolar AS memiliki dampak yang signifikan terhadap kondisi perekonomian masyarakat, terutama dalam hal daya beli dan kesejahteraan. Oleh karena itu, perlu dilakukan upaya untuk menguatkan nilai tukar rupiah dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *