Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler β 11 Mei 2026 | Gunung Dukono di Halmahera Utara, Maluku Utara, kembali meletus dengan dahsyat. Letusan ini bukan hanya sekadar peristiwa alam, tetapi juga memiliki sejarah dan cerita rakyat yang kental dengan budaya masyarakat lokal. Nama "Dukono" sendiri merujuk pada aktivitas vulkaniknya, yang terus-menerus memuntahkan asap dari kawahnya.
Menurut catatan sejarah, Gunung Dukono memiliki sejarah panjang dan cerita rakyat yang unik. Salah satu cerita rakyat yang terkenal adalah kisah Nenek Tolori, yang dipercaya sebagai asal-usul Gunung Dukono. Nenek Tolori adalah seorang nenek yang memilih bertahan di daerah tersebut setelah letusan Gunung Tarakani, dan kemudian meninggal dunia karena tertimbun abu gunung.
Gunung Dukono juga dikenal sebagai salah satu gunung paling aktif di Indonesia. Aktivitas vulkaniknya tercatat hampir tidak pernah benar-benar berhenti sejak erupsi besar pada tahun 1933. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat bahwa Dukono adalah salah satu gunung yang paling sering meletus di Indonesia.
Letusan Gunung Dukono yang terbaru terjadi pada Senin, 11 Mei 2026, dengan tinggi kolom abu mencapai 2.700 meter. Letusan ini juga menyebabkan dua pendaki asal Singapura meninggal dunia karena tertimbun material vulkanik. Tim SAR gabungan berhasil menemukan jenazah mereka dan membawa mereka ke pos aman.
Gunung Dukono bukan hanya sekadar ancaman geologis, tetapi juga memiliki nilai budaya yang tinggi bagi masyarakat Halmahera Utara. Masyarakat setempat memanfaatkan abu vulkanik yang menyuburkan lahan pertanian secara turun-temurun. Kawah aktif Dukono yang konsisten mengeluarkan asap juga menjadi daya tarik bagi para peneliti vulkanologi dan pendaki.
Dalam beberapa tahun terakhir, Gunung Dukono telah menjadi sorotan karena intensitas erupsinya yang tinggi. Pemerintah dan masyarakat setempat harus selalu waspada terhadap bahaya abu vulkanik dan mempersiapkan diri untuk menghadapi letusan yang lebih dahsyat.
