Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 10 April 2026 | Jenderal TNI (Purn) Try Sutrisno, wakil presiden ke-6 Republik Indonesia yang baru saja meninggal dunia pada 2 Maret 2026, dikenal tidak hanya karena peranannya yang tegas sebagai Panglima ABRI, tetapi juga karena gaya hidupnya yang sederhana dan nilai-nilai integritas yang kuat. Di balik karier militer dan politiknya, Try Sutrisno memelihara rumah tangga yang menjauhi kemewahan, menolak fasilitas negara, serta menanamkan prinsip kejujuran pada setiap anggota keluarganya.
Pasangan hidupnya, Ibu Tuti Sutiawati, secara konsisten menolak penggunaan fasilitas negara saat suaminya menjabat. Meskipun memiliki akses ke tunjangan resmi, ia lebih memilih menjalani kehidupan sehari-hari dengan cara yang bersahaja, menolak segala bentuk kemewahan yang dapat menodai citra publik. Sikap ini menjadi contoh nyata bagi anak-anak mereka dalam menilai pentingnya kesederhanaan.
Dalam sebuah episode program ROSI yang menampilkan keluarga Try Sutrisno, beberapa anaknya mengungkapkan bagaimana nilai integritas itu diturunkan secara turun-temurun. Natalia Indrasari, anak ketujuh, menyatakan bahwa rasa takut terbesar dalam hidupnya bukanlah pada aparat kepolisian, melainkan pada sang ayah. “Saya lebih takut pulang dimarahin Papa dibanding ditangkap polisi,” ujarnya, menegaskan bahwa disiplin keluarga lebih menakutkan daripada sanksi hukum.
Anak keempat, Nori Chandrawati, menambahkan bahwa ayahnya selalu menekankan prinsip tanggung jawab pribadi. “Kamu tidak perlu takut untuk hidup selama kamu tidak berbuat salah. Namun bila berbuat salah, kamu harus malu dan menanggungnya sendiri tanpa melibatkan orang lain,” kata Nori, mencerminkan etika yang mengutamakan kejujuran dan akuntabilitas.
- Ketika kakak sulung mereka, Nora Tristyana, melanggar aturan lalu lintas, tidak ada perlakuan istimewa dari keluarga. Bahkan ketika ia ditilang, ayahnya tidak campur tangan, melainkan membiarkan proses hukum berjalan.
- Anak kedua, Taufik Dwi Cahyono, mengingat insiden ketika kakaknya dihentikan polisi karena melintasi lampu kuning. Ayahnya berada di dalam mobil, namun tidak mengintervensi. Petugas akhirnya mengizinkan mereka melanjutkan perjalanan, namun ayahnya mengekspresikan rasa iba terhadap petugas, menunjukkan penghargaan terhadap profesi kepolisian.
Selain itu, terdapat kisah menarik tentang salah satu anak Try Sutrisno yang kemudian meniti karier di kepolisian, Irjen Firman Santyabudi. Sebelum menjadi Kepala Korps Lalu Lintas (Kakorlantas), Firman pernah mengalami situasi di mana adiknya ditilang polisi. Menurut laporan, ia menolak membantu adiknya secara khusus, menegaskan prinsip bahwa tidak ada perlakuan khusus bagi anggota keluarga dalam penegakan hukum. Keputusan ini menggambarkan konsistensi nilai yang telah ditanam sejak kecil: hukum harus berlaku sama bagi semua.
Penghargaan terhadap penegak hukum tidak hanya terbatas pada sikap pribadi. Keluarga Try Sutrisno secara terbuka menghormati peran polisi, bahkan ketika mereka menjadi subjek penegakan hukum. Sikap empati dan rasa iba yang ditunjukkan ayah mereka kepada petugas ketika anaknya dihentikan menegaskan bahwa rasa hormat kepada aparat merupakan bagian penting dari pendidikan moral mereka.
Integritas Try Sutrisno juga tercermin dalam penolakan terhadap fasilitas negara yang dapat menimbulkan konflik kepentingan. Istri dan anak-anaknya secara konsisten menolak penggunaan kendaraan dinas, rumah resmi, atau tunjangan khusus yang seharusnya dapat mereka akses. Kebijakan ini tidak hanya memperkuat citra pribadi Try Sutrisno, tetapi juga menjadi contoh bagi pejabat publik lainnya dalam menjaga jarak dari praktik nepotisme.
Warisan nilai-nilai ini terus hidup dalam generasi berikutnya. Anak-anaknya kini aktif dalam berbagai bidang, namun tetap menjunjung tinggi prinsip kejujuran, rasa hormat terhadap hukum, dan kesederhanaan. Mereka menegaskan bahwa keberhasilan tidak diukur dari kemewahan, melainkan dari integritas dan kontribusi positif kepada masyarakat.
Kesimpulannya, Try Sutrisno tidak hanya dikenang sebagai tokoh militer dan politik yang berpengaruh, tetapi juga sebagai figur keluarga yang menanamkan nilai kejujuran, disiplin, dan kesederhanaan pada setiap anggota keluarganya. Sikap menolak fasilitas negara, menghormati aparat, serta menegakkan keadilan tanpa pandang bulu menjadi contoh teladan bagi generasi muda Indonesia dalam membangun bangsa yang berintegritas.
