Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 10 April 2026 | Jakarta, 10 April 2026 – Menteri Transmigrasi Indonesia, M. Iftitah Sulaiman, mengungkap kembali kisahnya sebagai bagian dari kontingen pertama Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang dikirim ke Lebanon Selatan untuk menjalankan misi penjaga perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNIFIL) pada tahun 2006. Penjelasan Iftitah disampaikan dalam sebuah webinar Indonesia Strategic and Defence Studies (ISDS) pada Kamis (9/4/2026) malam, mengingatkan publik akan tantangan logistik, keamanan maritim, serta semangat kebangsaan yang menyertai keberangkatan pasukan perdamaian Indonesia.
Inisiatif pengiriman pasukan perdamaian ke UNIFIL berasal dari Presiden ke-6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), yang pada saat itu menekankan pentingnya kontribusi Indonesia dalam menjaga stabilitas kawasan Timur Tengah. Pada 4 November 2006, kontingen yang dipimpin oleh Letnan Kolonel (purn) Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) bersama dua anggota lainnya, yaitu Ossy Dermawan dan Iftitah Sulaiman, berangkat dari Pelabuhan Tanjung Priok dengan menumpang kapal kargo milik Amerika Serikat bernama U.S. Wilson.
Perjalanan laut menempuh jarak sekitar 12 hari, melewati Selat Suez dan menghindari Selat Hormuz yang pada masa itu tengah berada dalam ketegangan geopolitik. Menurut Iftitah, total awak kapal terdiri atas 24 orang, termasuk enam prajurit TNI yang ditugaskan mengawal alutsista penting seperti tank, kendaraan lapis baja VAB, dan persediaan logistik. “Kami memiliki misi utama untuk memastikan seluruh personel dan peralatan tiba dengan selamat di Pelabuhan Beirut,” ujarnya.
Selama menembus perairan lepas pantai Somalia, yang dikenal sebagai zona rawan pembajakan, kapal U.S. Wilson menerima laporan ancaman perompakan pada pagi harinya. Iftitah menjelaskan bahwa lima prajurit TNI lainnya dan dirinya bergiliran berjaga selama tiga hari dua malam, menjaga jarak aman dan siap menanggapi serangan. “Kami bahkan menampilkan senjata sebagai deterrent, meskipun para perompak dilengkapi dengan teropong,” tambahnya.
Beruntung, tidak ada insiden berarti terjadi, dan kapal berhasil melintasi perairan Somalia serta melanjutkan perjalanan menuju Terusan Suez tanpa gangguan. Sesampainya di Beirut, pasukan Indonesia bergabung dengan tim advanced yang sudah tiba sebelumnya menggunakan pesawat udara.
Berikut data singkat mengenai partisipasi Indonesia dalam UNIFIL 2006:
- Jumlah personel TNI yang dikerahkan: 853 orang
- Total personel UNIFIL dari seluruh negara: 12.167 orang
- Durasi penugasan pasukan Indonesia: 12 bulan
- Lokasi tugas utama: penjagaan area sensitif di sekitar Blue Line, termasuk makam sengketa
Selama masa penugasannya, pasukan Indonesia berperan aktif dalam mengamankan zona demiliterisasi, melakukan patroli rutin, serta melaporkan setiap eskalasi konflik kepada PBB. Keberadaan mereka dianggap sebagai kontribusi penting dalam menurunkan ketegangan antara Israel dan Lebanon, serta menjaga keamanan penduduk sipil di wilayah tersebut.
Iftitah menekankan bahwa pengalaman tersebut memberikan pelajaran berharga tentang pentingnya kesiapan logistik, koordinasi antar lembaga militer, serta ketangguhan mental prajurit di tengah situasi berisiko tinggi. “Pengalaman itu memperkuat rasa kebanggaan saya sebagai anggota TNI dan menunjukkan bahwa Indonesia siap berperan di panggung internasional,” katanya.
Penutupan webinar diisi dengan tanya jawab, di mana Iftitah menjawab pertanyaan tentang tantangan logistik di medan tempur, prosedur evakuasi darurat, serta rencana Indonesia untuk meningkatkan partisipasi dalam misi perdamaian PBB di masa depan. Ia menyatakan harapan agar generasi milenial dapat lebih memahami nilai-nilai perdamaian dan kontribusi Indonesia di arena global.
Dengan mengingat kembali perjalanan bersejarah tersebut, Menteri Iftitah tidak hanya menegaskan kembali dedikasi pribadi, tetapi juga menggarisbawahi komitmen Indonesia dalam mendukung upaya perdamaian dunia melalui kontribusi militer yang profesional dan berintegritas.
