Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 06 Mei 2026 | Komisi VI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI menyiapkan agenda penting untuk memanggil Badan Pengelola Investasi Daya Agata Nusantara (BPI Danantara) serta PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (Telkom) pada sidang mendatang. Kedua entitas diminta memberikan klarifikasi terkait dugaan akuisisi saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) yang menimbulkan pertanyaan tentang nilai strategis, potensi kerugian, dan dampaknya bagi ekosistem transportasi daring.
Wakil Ketua Komisi VI DPR, Adisatrya Suryo Sulisto (PDIP), menegaskan bahwa panggilan tersebut akan dilaksanakan sesegera‑sesegarnya setelah masa reses. Ia menyoroti laporan keuangan Telkom pada kuartal III‑2025 yang menunjukkan kerugian belum terealisasi sebesar Rp360 miliar akibat penurunan nilai wajar investasi di GOTO. Telkomsel, anak usaha Telkom, memegang sekitar 23,7 miliar lembar saham GOTO, setara 2 persen saham beredar, namun nilai investasinya belum menghasilkan peningkatan nilai perusahaan.
Di sisi lain, Danantara menegaskan bahwa setiap keputusan investasi didasarkan pada pertimbangan strategis, analisis fundamental, dan tujuan menciptakan nilai jangka panjang bagi perekonomian nasional. Kepala BPI Danantara, Rosan Roeslani, menjelaskan bahwa motivasi utama pembelian saham GOTO—yang berada di bawah 1 persen kepemilikan total—adalah untuk meningkatkan kesejahteraan mitra pengemudi ojek online (ojol). Ia menambahkan bahwa Danantara berupaya menyediakan BPJS Ketenagakerjaan, BPJS Kesehatan, serta program Bantuan Hari Raya (BHR) yang dilipatgandakan bagi para pengemudi.
Investasi ini juga dipandang sebagai langkah intervensi sosial melalui kepemilikan saham. Dengan menjadi pemegang saham, Danantara memperoleh “kursi” dalam rapat pemegang saham GOTO, memungkinkan mereka mengusulkan kebijakan yang lebih menguntungkan bagi mitra pengemudi. Sebagai contoh, pemerintah melalui Perpres No. 27/2026 menurunkan potongan aplikator menjadi 8 persen, jauh di bawah batas sebelumnya yang berkisar 10‑20 persen.
Data keuangan GOTO menunjukkan perubahan signifikan. Pada kuartal I 2026, GOTO mencatat laba bersih pertama sebesar Rp171 miliar setelah sebelumnya merugi Rp367 miliar pada kuartal I 2025. Pendapatan bersih naik 26 persen menjadi Rp5,3 triliun, dan Gross Transaction Value (GTV) inti meningkat 65 persen. Arus kas bebas juga beralih positif sebesar Rp1,3 triliun. Kondisi ini memperkuat pandangan Danantara bahwa harga saham GOTO yang masih berada di kisaran Rp50 per lembar (dikenal sebagai “gocap”) merupakan peluang undervalued.
| Item | Kuartal I 2025 | Kuartal I 2026 |
|---|---|---|
| Laba Bersih | ‑Rp367 miliar | +Rp171 miliar |
| Pendapatan Bersih | Rp4,2 triliun | Rp5,3 triliun |
| GTV Inti | Rp210 triliun | Rp348 triliun |
| Arus Kas Bebas | ‑Rp850 miliar | +Rp1,3 triliun |
Selain sorotan DPR, Danantara juga sedang mempercepat proses perampingan Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Chief Investment Officer (CIO) Danantara, Dony Oskaria, mengungkapkan bahwa merger seluruh aset manajemen BUMN diproyeksikan selesai pada bulan ini, tanpa menimbulkan pemutusan hubungan kerja. Langkah ini sejalan dengan agenda pemerintah untuk merampingkan jumlah BUMN dari lebih seribu menjadi sekitar 250 entitas.
Reaksi pasar terhadap berita ini beragam. Saham GOTO mengalami fluktuasi, namun investor institusional lain tetap menunjukkan kepercayaan dengan kepemilikan di atas 1 persen. Sementara itu, pihak GOTO menyambut baik investasi Danantara, menilai bahwa kehadiran “tangan kanan” pemerintah dapat memperkuat tata kelola perusahaan dan menambah moral bagi pemangku kepentingan.
Secara keseluruhan, kasus Danantara menyoroti dinamika antara kebijakan publik, strategi korporasi, dan kepentingan sosial dalam ekosistem ekonomi digital Indonesia. Pemeriksaan DPR akan menjadi momen penting untuk menilai apakah akuisisi ini sejalan dengan tujuan nasional, melindungi kepentingan investor, serta memastikan bahwa kesejahteraan ojol memang menjadi prioritas utama.
